Biaya Hidup di Surabaya Meningkat, Inflasi Juli Capai 3,45 Persen.

Surabaya, MercuryFM – Biaya hidup masyarakat Surabaya pada Juli 2026 tercatat mengalami kenaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) mencapai 3,45 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,43.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi pada Juli tahun lalu yang berada di kisaran 2 persen. Kenaikan ini menunjukkan harga berbagai kebutuhan masyarakat secara umum masih lebih mahal dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

BPS Surabaya mencatat inflasi terutama didorong oleh naiknya harga sejumlah kebutuhan pokok, biaya transportasi, layanan kesehatan, hingga kebutuhan perawatan pribadi.
Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi antara lain daging sapi, beras, minyak goreng, nasi dengan lauk, rokok, serta emas perhiasan. Selain itu, biaya transportasi juga ikut memberikan tekanan terhadap inflasi, terutama dari sektor angkutan udara.

Dari kelompok pengeluaran, sektor transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan mencapai 8,82 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan tertinggi hingga 10,05 persen, dipengaruhi oleh harga emas perhiasan dan sejumlah kebutuhan perawatan diri.
Di sektor pangan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,99 persen. Kenaikan harga beras, daging sapi, minyak goreng, serta produk tembakau menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan kelompok ini.

Meski secara tahunan inflasi masih cukup tinggi, BPS mencatat Surabaya mengalami deflasi bulanan sebesar 0,22 persen pada Juli 2026. Artinya, dibandingkan Juni 2026, beberapa harga kebutuhan justru mengalami penurunan.
Penurunan harga paling terasa terjadi pada komoditas bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai merah, minyak goreng, dan tomat. Turunnya harga sejumlah bahan pangan tersebut membantu menahan laju kenaikan harga secara keseluruhan.

Selain pangan, harga emas perhiasan yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong inflasi juga tercatat mengalami penurunan pada Juli sehingga ikut menyumbang deflasi bulanan.
Secara kumulatif sejak awal tahun hingga Juli 2026, inflasi Surabaya tercatat sebesar 1,95 persen.

Data ini menunjukkan bahwa masyarakat masih menghadapi kenaikan biaya hidup, terutama pada kebutuhan pangan, transportasi, kesehatan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, turunnya harga sejumlah bahan pangan pada Juli menjadi kabar baik yang sedikit meringankan beban pengeluaran warga.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena inflasi yang terus meningkat dapat memengaruhi daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (lam)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist