Surabaya, MercuryFM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat penurunan angka kemiskinan pada September 2025. Persentase penduduk miskin turun menjadi 9,30 persen, atau menurun 0,20 persen poin dibandingkan Maret 2025. Secara jumlah, penduduk miskin di Jatim kini mencapai 3,80 juta jiwa, berkurang sekitar 71,59 ribu orang dalam enam bulan terakhir.
Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, Ike Rahayu Sri, mengatakan, tren ini menunjukkan perbaikan kondisi kesejahteraan masyarakat, meski belum merata.
“Penurunan angka kemiskinan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perbaikan indikator sosial mulai berdampak, namun kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan masih menjadi tantangan utama,” ujarnya.
BPS mencatat, persentase penduduk miskin di perkotaan berada di angka 6,93 persen, sementara di perdesaan masih 12,55 persen. Artinya, tingkat kemiskinan di desa hampir dua kali lipat dibanding kota.
Perdesaan masih menjadi kantong kemiskinan terbesar, sehingga intervensi kebijakan perlu lebih difokuskan ke wilayah ini, khususnya pada sektor pangan dan pertanian.
Dari sisi ekonomi makro, BPS juga mencatat inflasi September 2025 sebesar 2,53 persen (y-on-y), pertumbuhan ekonomi triwulan III-2025 mencapai 5,22 persen, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,91 persen, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 3,88 persen, dan Nilai Tukar Petani meningkat ke level 115,05.
Sementara itu, garis kemiskinan Jawa Timur naik menjadi Rp585.020 per kapita per bulan, meningkat 4,84 persen dibanding Maret 2025. Komponen makanan masih menjadi penentu utama dengan kontribusi 76,46 persen.
Kenaikan garis kemiskinan ini menandakan tekanan biaya hidup, terutama dari kelompok pangan, masih cukup kuat dirasakan masyarakat miskin.
BPS juga mencatat Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) turun menjadi 0,262, menandakan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin semakin menyempit, meski kondisi perdesaan (0,365) masih jauh lebih berat dibanding perkotaan (0,187). (lam)

