Reses, Ferddy Poernomo gandeng BNN sosialisasi pencegahan Narkoba, serta minta Pusat dan Provinsi perhatikan soal irigasi pertanian

Bojonegoro, MercuryFM – Maraknya peredaran narkoba di Jawa Timur, menjadi atensi anggota DPRD Jatim dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bojonegoro-Tuban. Hal ini sebagai wujud keprihatinannya terkait masih maraknya persoalan narkoba di Jatim.

Pihaknya dalam reses ini menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jatim. Apalagi dalam bulan Juli ini BNN Provinsi berhasil mengungkap kasus temuan Ganja seberat 3,37 ton di Kabupatem Gresik dan sabu-sabu seberat 5,4 kg kg di Bangkalan Madura.

Menurut Fredy pihaknya tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga menyasar lingkungan pesantren dan generasi muda. Salah satunya melalui kegiatan motivasi pencegahan narkoba kepada para santri di Pondok Pesantren Al-Rosyid, Dander, Bojonegoro.

​”Narkoba ini sangat mengkhawatirkan. Pengungkapan kasus besar belakangan ini mengindikasikan masih banyak potensi kasus lain yang belum terungkap. Maka langkah pencegahan (preventif) dan sosialisasi Perda Nomor 10 Tahun 202 tentang (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika harus terus ditingkatkan,” ujar Fredy usai menggelar reses di Ponpes Mamba’ul Ulum Kedungadem, Dusun Sumbergirang, Desa Jamberejo, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Senin (27/7/2026).

​Ke depan, kata Fredy pihaknya mengagendakan kolaborasi berkelanjutan dengan BNN serta melibatkan unsur purnawirawan TNI-Polri (Pepabri, PP Polri, dan PP AD) untuk memperkuat edukasi bahaya narkoba bagi para pelajar dan pemuda.

“Ini ancaman serius bagi Jatim terkait Narkoba, khususnya bagi anak-anak muda. Sosialisasi pencegahan harus masiv dilakukan. Semua harus terlibat, tidak boleh hanya mengandalkan BNN maupun aparat kepolisian. Mari kita gaungkan bersama perang lawan Narkoba,” tegas anggota Komisi A DPRD Jatim ini.

Sementara itu selain persoalan Narkoba, dalam reses yang berlangsung ini, Freddy Poernomo juga mendapatkan keluhan di sektor pertanian. Khususnya saat memasuki musim kemarau. Hal ini terkait ketersediaan dan distribusi air irigasi. Yang itu menjadi beban berat bagi petani yang saat ini tengah menanam tembakau.

​”Problem pertanian di musim kemarau saat ini, khususnya para petani tembakau dikawasan sini. Mereka harus bekerja ekstra keras hanya untuk keperluan air bagi irigasi mereka. Para petani harus mikul (mengangkut) air untuk irigasi mereka,” jelasnya.

​Pihaknya kata Politisi Partai Golkar ini, mengaku telah berkoordinasi langsung dengan pihak Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Diharapkan ada langkah konkret Pemkab untuk menyelesaikan persoalan irigasi sawah warga.

​Selain itu, dirinya juga meminta kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta instansi pusat pengelola alur sungai yakni Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWS) agar lebih bijak dan fleksibel dalam memberikan kewenangan serta regulasi pembagian air.

​”Pemerintah kan hadir untuk melayani. Kadang aturan terlalu kaku, sementara di lapangan, air di bagian tengah sudah mampet sehingga warga di bagian hilir atau kawasan pembukitan tidak kebagian. Untungnya petani kita sabar-sabar,” ucapnya.

“Untuk itu kembali saya akan minta Fraksi Golkar menseriusi persoalan ini, dan bisa memperjuangkan hal ini ke Pemerintah Pusat dan Provinsi untuk mendapat atensi. Kasihan masyarakat petani akibat kesulitan air untuk irigasi lahan pertanian mereka,” pungkasnya mempertegas. (ari)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist