Surabaya, MercuryFM – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mampu mengerjakan tugas yang sebelumnya membutuhkan kemampuan akademik tingkat tinggi. Bahkan, dalam pemaparan pakar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kemampuan sejumlah model AI dibandingkan dengan kecerdasan ilmuwan besar seperti Albert Einstein.
Perkembangan ini memunculkan pertanyaan besar: ketika mesin semakin cerdas, apakah manusia masih mampu bersaing?
Pertanyaan tersebut mengemuka dalam pelatihan peningkatan pemahaman masyarakat tentang penggunaan AI yang menghadirkan Prof. Dr. Hanif Fakhrurroja sebagai narasumber di Hotel Rich Palace Surabaya, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan itu turut dihadiri anggota DPR RI Fraksi PKS dari Daerah Pemilihan Jawa Timur I, Dr. Reni Astuti, S.Si., M.PSDM.
Dalam paparannya, Hanif menjelaskan bahwa AI kini dapat membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan, mulai dari menjawab pertanyaan akademik, menyusun tulisan, menganalisis informasi, hingga membuat gambar dan video.
Ia mencontohkan penggunaan AI dalam industri media. Teknologi tersebut dapat membantu memantau isu yang berkembang di media sosial, menyusun draf berita, serta menghasilkan ilustrasi visual. Sejumlah agen AI bahkan dapat diatur untuk mengerjakan tahapan berbeda dalam satu alur produksi.
Menurut Hanif, perkembangan ini membuat kemampuan menggunakan AI menjadi faktor penting dalam persaingan dunia kerja.
Ia mengutip pernyataan CEO Nvidia Jensen Huang yang menekankan bahwa AI tidak serta-merta menggantikan manusia. Namun, orang yang mampu memanfaatkan AI berpotensi menggantikan pekerja yang tidak menguasai teknologi tersebut.
Artinya, tantangan bagi pekerja bukan hanya menghadapi kecanggihan mesin, tetapi juga meningkatkan keterampilan agar tidak tertinggal oleh perubahan.
AI Bisa Membantu, tetapi Tidak Selalu Benar
Meski mampu mengerjakan tugas kompleks, hasil AI tidak boleh langsung dianggap benar. Sistem ini masih dapat menghasilkan informasi keliru, memberikan jawaban yang tidak akurat, atau membuat konten yang tampak meyakinkan meski tidak sesuai fakta.
Karena itu, Hanif menekankan pentingnya kemampuan menggunakan, memverifikasi, dan menjaga penggunaan AI agar tetap beretika.
Dalam dunia jurnalistik, misalnya, AI dapat mempercepat produksi berita. Namun, pemeriksaan fakta, konfirmasi kepada narasumber, dan keputusan untuk menerbitkan informasi tetap membutuhkan tanggung jawab manusia.
Perlu dipahami pula bahwa kemampuan AI meraih hasil tinggi dalam tes akademik tidak otomatis membuktikan bahwa kecerdasannya secara keseluruhan melampaui Einstein. Perbandingan tersebut harus dilihat berdasarkan jenis tes dan ukuran yang digunakan.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, manusia dituntut bukan sekadar mampu menggunakan AI, tetapi juga berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Sebab, persoalan besarnya bukan hanya apakah AI lebih pintar daripada manusia, melainkan siapa yang paling siap menghadapi perubahan yang dibawanya. (lam)

