Surabaya, MercuryFM – Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 tidak hanya menjadi ajang olahraga yang diikuti ribuan pelari, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap perekonomian Kota Surabaya.
Sebanyak 10.300 peserta ambil bagian dalam event tersebut. Hasil riset Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (LPDE FEB Unair) mencatat, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 mampu menciptakan perputaran aktivitas ekonomi mencapai Rp74,78 miliar selama tiga hari.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, maraton telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sekaligus mampu menjadi penggerak ekonomi dan pariwisata.
“Yang mengikuti hari ini 10.300 peserta. Ini menunjukkan Surabaya memang sebagai salah satu pilihan untuk lari maraton di Indonesia. Dampaknya sangat luar biasa,” kata Eri.
Eri menyebut dampak event tersebut sudah terlihat dari sektor perhotelan dan pariwisata. Berdasarkan pengecekan Pemkot Surabaya, tingkat okupansi hotel selama pelaksanaan kegiatan berada di kisaran 80 hingga 90 persen.
“Ketika saya sudah mengecek data di perhotelan, di pariwisata itu sangat naik signifikan. Okupansinya juga sampai dengan 80 persen sampai 90 persen,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Penelitian dan Pengembangan LPDE FEB Unair, Atik Purwati, menjelaskan penelitian dilakukan menggunakan data primer dan sekunder yang kemudian diolah dengan pendekatan input-output.
Hasilnya menunjukkan Surabaya ISOPLUS Marathon memberikan multiplier effect terhadap sejumlah sektor ekonomi, mulai perdagangan, jasa, pariwisata, transportasi hingga UMKM.
“Dari hasil olahan tadi, kegiatan Surabaya ISOPLUS Marathon berdampak pada beberapa sektor ekonomi. Perputaran aktivitas kegiatan ekonomi sebesar Rp74,78 miliar selama tiga hari,” jelas Atik.
Dari total perputaran tersebut, estimasi kontribusinya terhadap perekonomian Kota Surabaya mencapai Rp41,42 miliar.
Atik menjelaskan, peserta dari luar daerah tidak hanya mengeluarkan uang untuk mengikuti lomba, tetapi juga untuk menginap, menggunakan transportasi lokal, membeli suvenir hingga mengunjungi destinasi wisata di Surabaya.
Dalam riset tersebut, rata-rata pengeluaran untuk penginapan tercatat sekitar Rp772 ribu per orang per hari. Pengeluaran transportasi lokal sekitar Rp250 ribu per orang per hari, sementara pembelian suvenir sekitar Rp725 ribu per orang per hari.
Sektor pariwisata juga ikut terdorong. Sejumlah peserta dan keluarga mereka memanfaatkan momentum berada di Surabaya untuk mengunjungi destinasi seperti Kota Lama dan Monumen Kapal Selam atau Monkasel. Pengeluaran untuk aktivitas pariwisata diperkirakan sekitar Rp882 ribu per orang per hari.
“Dengan adanya kegiatan Surabaya ISOPLUS Marathon ini sangat berdampak. Kami berharap kegiatan yang sama bisa terus digelar sehingga Surabaya menjadi lebih greget dan menciptakan perputaran kegiatan ekonomi yang lebih besar lagi,” kata Atik.
Data peserta juga menunjukkan sekitar 40 persen pelari berasal dari luar Kota Surabaya. Selain itu, sekitar satu persen peserta merupakan pelari mancanegara. Eri menyebut peserta internasional antara lain berasal dari Australia, Jepang, India dan Filipina.
Melihat besarnya dampak ekonomi tersebut, Eri menegaskan Pemkot Surabaya akan terus memperkuat konsep sport tourism. Surabaya diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kota tujuan wisata dan bisnis, tetapi juga menjadi salah satu destinasi utama olahraga lari di Indonesia.
Pemkot Surabaya juga telah mendukung pengembangan fasilitas olahraga, salah satunya jogging track di sepanjang Kalimas yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga.
“Harapan kami ada di Surabaya. Tahun depan bisa lebih baik lagi dan lebih banyak mendatangkan pelari. Kalau bisa tidak hanya satu hari, mungkin bisa dua hari seperti yang ada di Jakarta,” tegas Eri.
Bagi Eri, Surabaya ISOPLUS Marathon juga menjadi gambaran karakter warga Kota Pahlawan yang sportif dan pantang menyerah.
“Maraton itu bukan hanya lari, tapi keberanian untuk memulai, konsistensinya, langkahnya. Yang pasti maraton mengajarkan kita untuk pantang menyerah. Itulah semangat anak-anak Suroboyo,” pungkasnya. (lam)

