Surabaya, MercuryFM – Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur pada Januari-Juli 2026 menunjukkan tekanan yang cukup besar. Di tengah perlambatan ekspor, nilai impor justru meningkat dua digit sehingga memicu pelemahan neraca perdagangan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat nilai ekspor Jawa Timur selama Januari-Juli 2026 mencapai sekitar US$15,90 miliar, atau turun 4,43 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Secara tahunan, ekspor pada Juli 2026 juga tercatat sebesar US$2,64 miliar, turun 7,94 persen dibanding Juli tahun lalu.
Penurunan ekspor terutama dipengaruhi melemahnya kinerja ekspor nonmigas serta anjloknya ekspor migas. Ekspor migas tercatat turun hingga 48,07 persen, dengan ekspor minyak mentah merosot 65,54 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami pelemahan. Komoditas tembaga (HS 74) justru menjadi bintang ekspor Jawa Timur dengan peningkatan signifikan. Nilai ekspor tembaga meningkat tajam dibanding periode yang sama tahun lalu. Selain itu, produk olahan ikan, krustasea, dan moluska (HS 16) juga mencatat pertumbuhan positif.
Dari sisi tujuan ekspor, Tiongkok masih menjadi pasar utama bagi produk Jawa Timur. Peningkatan ekspor ke negeri tersebut turut menopang sejumlah komoditas unggulan seperti lemak dan minyak hewani atau nabati serta bahan kimia organik.
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi pada impor. Selama Januari-Juli 2026, nilai impor Jawa Timur mencapai sekitar US$15,91 miliar, meningkat 14,16 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Kenaikan impor didorong oleh meningkatnya kebutuhan bahan baku industri, barang konsumsi, hingga barang modal. Impor bahan baku dan penolong mencapai US$15,57 miliar atau naik 14,59 persen. Sedangkan impor barang konsumsi naik 17,95 persen, dan impor barang modal melonjak 34,86 persen.
Komoditas yang mengalami kenaikan impor cukup besar antara lain besi dan baja (HS 72) yang meningkat sekitar 28,04 persen dibanding tahun sebelumnya. Tiongkok masih menjadi negara pemasok utama berbagai kebutuhan industri Jawa Timur, terutama mesin dan peralatan mekanis serta produk besi dan baja.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan masih mendominasi struktur ekspor nonmigas Jawa Timur dengan kontribusi mencapai 94,64 persen. Namun sektor ini juga mengalami penurunan 3,64 persen, terutama akibat melemahnya ekspor perhiasan, berbagai produk kimia, serta kayu dan barang dari kayu.
Kondisi ekspor yang menurun dan impor yang meningkat membuat neraca perdagangan Jawa Timur berada dalam tekanan. Situasi ini menjadi tantangan bagi dunia usaha dan pemerintah daerah untuk memperkuat daya saing produk ekspor sekaligus menjaga ketergantungan terhadap barang impor, terutama untuk kebutuhan industri.
Perkembangan perdagangan luar negeri ini menjadi sinyal penting bagi perekonomian Jawa Timur, mengingat sektor ekspor-impor masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi provinsi dengan kontribusi terbesar kedua terhadap ekonomi nasional. (lam)

