Usai terpilih aklamasi, Emil Dardak ditantang buka ruang untuk kader muda

Surabaya, MercuryFM – Emil Elestianto Dardak kembali mendapat mandat memimpin DPD Partai Demokrat Jawa Timur periode 2026-2031. Terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) VII Demokrat Jatim, Sabtu (29/8/2026), Emil kini dihadapkan pada tantangan baru: menyusun kepengurusan sekaligus menentukan arah regenerasi partai untuk lima tahun mendatang.

Penyusunan struktur kepengurusan baru Demokrat Jatim menjadi sorotan. Bukan hanya soal menentukan posisi sekretaris, bendahara, maupun jajaran bidang, tetapi juga seberapa besar ruang yang akan diberikan Emil kepada kader-kader muda untuk masuk ke posisi strategis partai.

Momentum tersebut dinilai menjadi kesempatan bagi Demokrat Jatim untuk melakukan penyegaran organisasi sekaligus memperkuat daya tarik partai di tengah perubahan karakter pemilih, terutama generasi milenial dan pemilih muda.

Pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam mengatakan partai politik saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks di era digital. Menurutnya, partai tidak bisa hanya mengandalkan pola politik lama jika ingin mempertahankan eksistensi sekaligus memperluas basis pemilih.

“Partai tentu saja perlu membangun, membarukan, renewable (terbarukan) citra berkelanjutan melalui aksi yang fungsional untuk meraih ceruk baru pemilih milenial,” kata Surokim saat dikonfirmasi, Selasa (01/09/26).

Menurut Surokim, salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan Demokrat Jatim adalah memberikan porsi lebih besar kepada generasi muda dalam jajaran fungsionaris partai.

Kader muda dinilai memiliki perspektif yang lebih dekat dengan karakter pemilih baru. Mereka juga dinilai lebih mampu membaca perubahan perilaku masyarakat yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi dan media sosial.

“Banyak ahli melihat agar renewable action berkelanjutan tadi bisa dilakukan dengan memasukkan energi-energi baru dari kalangan milenial dalam jajaran fungsionaris partai,” ujarnya.

Namun, Surokim menegaskan regenerasi tidak harus dimaknai sebagai pengesampingan kader senior. Sebaliknya, pengalaman kader senior justru dapat menjadi fondasi untuk membimbing dan menjaga soliditas organisasi, sementara kader muda menghadirkan gagasan serta energi baru.

“Regenerasi ini akan menjamin keberlanjutan partai dengan ditopang oleh mentor-mentor senior yang bisa menguatkan soliditas organisasi,” jelasnya.

Karena itu, susunan kepengurusan Demokrat Jatim periode 2026-2031 nantinya akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat arah kepemimpinan Emil setelah kembali dipercaya memimpin partai.

Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah Emil akan mempertahankan dominasi wajah lama dalam struktur partai atau membuka ruang lebih luas bagi kader muda yang diproyeksikan menjadi kekuatan politik baru Demokrat di Jawa Timur.

Surokim menilai ekspansi politik tetap diperlukan, namun harus berjalan beriringan dengan konsolidasi dan soliditas internal. Regenerasi juga tidak cukup hanya dengan memasukkan kader muda ke dalam struktur, tetapi harus dibarengi penguatan ideologi partai serta program strategis yang mampu menjawab perubahan lingkungan politik.

“Memasukkan energi muda sebagai fungsionaris partai itu conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk kebutuhan partai zaman now,” tegasnya.

Dengan demikian, tantangan Emil pada periode keduanya bukan sekadar menjaga kesinambungan organisasi, tetapi juga memastikan Demokrat Jatim mampu melahirkan kader dan kekuatan politik baru yang relevan dengan pemilih masa kini. (ari)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist