Pengangguran Jatim Turun, BPS: Pekerja Informal Masih Dominan Hingga 15,6 Juta

Surabaya, MercuryFM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur pada Mei 2026 menunjukkan tren positif. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 3,42 persen, lebih rendah dibanding Februari 2026 yang mencapai 3,55 persen.

Plt Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Ir. Herum Fajarwati, MM, menjelaskan jumlah penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 24,46 juta orang, meningkat sekitar 205,53 ribu orang dibanding Februari 2026. Sementara jumlah pengangguran turun menjadi sekitar 860 ribu orang.

“Jumlah penduduk bekerja bertambah dan tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya,” kata Herum Fajarwati dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Keadaan Ketenagakerjaan Jawa Timur, Selasa (5/8/2026).

Meski demikian, di balik penurunan angka pengangguran tersebut, BPS mengungkap tantangan lain yang masih dihadapi pasar kerja di Jawa Timur. Dari total 24,46 juta pekerja, sebanyak 15,61 juta orang atau 63,82 persen masih bekerja di sektor informal.

Angka tersebut menunjukkan mayoritas pekerja di Jawa Timur belum bekerja pada sektor formal yang umumnya memiliki kepastian penghasilan, perlindungan ketenagakerjaan, serta jaminan sosial yang lebih baik.

Sebaliknya, jumlah pekerja formal tercatat 8,85 juta orang atau 36,18 persen dari total pekerja. Meski meningkat dibanding Februari 2026, proporsinya masih jauh di bawah pekerja informal.

Selain dominasi sektor informal, kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian. Data BPS menunjukkan hanya 2,29 juta orang atau 9,38 persen dari total pekerja yang berpendidikan diploma dan universitas.

Sementara itu, kelompok pekerja terbesar masih berasal dari lulusan SD ke bawah yang mencapai 10,13 juta orang atau 41,43 persen. Disusul lulusan SMP sebesar 18,92 persen, SMA 16,74 persen, dan SMK 13,53 persen.

Herum Fajarwati menjelaskan, struktur ketenagakerjaan Jawa Timur masih banyak ditopang sektor-sektor tradisional dan padat karya. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 31,77 persen, disusul Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 18,63 persen, serta Industri Pengolahan sebesar 14,64 persen.

Di sisi lain, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga mengalami peningkatan menjadi 75,14 persen, menunjukkan semakin banyak penduduk usia kerja yang aktif masuk ke pasar kerja.

Data ini menunjukkan bahwa penurunan pengangguran di Jawa Timur merupakan sinyal positif bagi perekonomian daerah. Namun, tingginya jumlah pekerja informal dan masih rendahnya proporsi tenaga kerja berpendidikan tinggi menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian dalam upaya meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia di Jawa Timur. (lam)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist