Surabaya, MercuryFM – CEO Games of Society, Novel Leonardo, menegaskan komitmen pihaknya membangun ekosistem futsal usia muda melalui Wondr Futsal Series 2026 saat konferensi pers pembukaan (opening) Wondr Futsal Series 2026 di Surabaya, Rabu (29/7/2026).
Berbeda dengan akademi atau federasi, organisasi yang dipimpinnya memilih fokus menjadi promotor yang membuka jalan bagi para pemain muda agar dikenal klub profesional, perguruan tinggi, hingga Tim Nasional Indonesia.
Dalam konferensi pers tersebut, Novel mengatakan selama empat tahun terakhir Games of Society berkembang secara mandiri tanpa pernah menerima pendanaan dari pemerintah, baik APBN maupun APBD. Seluruh penyelenggaraan kompetisi dibiayai melalui sponsorship, penjualan tiket, monetisasi digital, hingga biaya registrasi peserta.
“Kami belum pernah menerima dana sepersen pun dari pemerintah atau negara. Kami murni melakukan komersialisasi dari sponsorship, ticketing offline, digital monetization, dan sumber pendapatan privat lainnya,” kata Novel.
Menurutnya, sejak berdiri pada 2022, Games of Society bersama wondr by BNI berhasil mengembangkan Futsal Series menjadi kompetisi pelajar berskala nasional yang kini hadir di 40 kota mulai dari Aceh hingga Papua. Untuk kategori perguruan tinggi, kompetisi digelar di 10 kota melalui National Collegiate Futsal Series.
Namun, Novel menegaskan tujuan utama mereka bukan melatih pemain.
“Kami bukan akademi, bukan klub, dan bukan federasi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap latihan atau pengembangan teknik pemain. Yang kami lakukan adalah bagaimana mengekspos pemain agar dikenal lebih luas,” ujarnya.
Setiap tahun, Futsal Series mendata sekitar 23.000 pemain dari berbagai daerah. Seluruh data tersebut disusun dalam bentuk katalog yang kemudian dibagikan secara gratis kepada federasi, pelatih Timnas, hingga klub-klub profesional.
Novel mengungkapkan, saat proses seleksi Timnas Futsal Indonesia U-16 dan U-19, katalog pemain tersebut turut dibagikan kepada pelatih kepala Hector Soto sebagai referensi awal untuk memantau talenta dari seluruh Indonesia.
“Indonesia negara kepulauan. Tidak mungkin pelatih berkeliling ke seluruh daerah. Karena itu kami membuat katalog pemain yang terus diperbarui setiap tahun dan kami bagikan secara gratis kepada federasi, Timnas, maupun klub profesional,” jelasnya.
Dari ribuan pemain yang terdata, sekitar 20 pemain disebut telah memperoleh kesempatan mengikuti seleksi hingga memperkuat Timnas kelompok usia. Selain itu, lebih dari 25 atlet juga berhasil memperoleh beasiswa penuh di sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Trisakti, Universitas Budi Luhur (UBL), Universitas Islam Indonesia (UII), dan kampus lainnya.
Novel menyebut sejumlah alumni Futsal Series juga telah menembus klub profesional, termasuk Hampton FC yang berbasis di Surabaya.
Meski demikian, ia menegaskan pihaknya tidak pernah mengklaim seluruh keberhasilan atlet merupakan hasil pembinaan Futsal Series.
“Kami hanya mengambil peran pada sisi eksposur. Pengembangan pemain tetap dilakukan oleh akademi, klub, sekolah, pelatih, guru, dan orang tua,” katanya.
Untuk musim 2026, Surabaya menjadi salah satu kota awal dalam rangkaian roadshow nasional setelah Gresik. Di Kota Pahlawan, hampir 100 sekolah mendaftar mengikuti kompetisi, namun panitia hanya menerima 24 tim karena keterbatasan slot pertandingan.
Novel juga menjelaskan bahwa hingga saat ini Futsal Series masih difokuskan untuk kategori putra tingkat SMA/SMK/MA agar penyelenggaraan tetap berkelanjutan.
“Kami memilih fokus dulu agar tetap sustainable. Doakan ke depan kami bisa berkembang ke kategori putri, SMP, bahkan jenjang lainnya. Tapi semuanya harus dilakukan bertahap,” ujarnya.
Bagi Games of Society, tujuan akhir penyelenggaraan wondr Futsal Series bukan sekadar mencari juara setiap musim, melainkan membuka peluang seluas-luasnya bagi atlet muda Indonesia untuk dikenal dan mendapatkan kesempatan berkarier.
“End game kami sederhana, mengekspos sebanyak mungkin pemain muda Indonesia dan menceritakan kisah mereka sebanyak mungkin,” pungkas Novel. (lam)

