Tuban, MercuryFM – Ideologi Marhaenisme, sejarah Pancasila, hingga warisan internasional Bung Karno seperti Dasasila Bandung, dibahas tintas Ketua DPC PDIP Kabupaten Tuban Ony Setiawan dengan cara yang sederhana namun sistematis.
Hal ini disampaikan Ony saat berbicara mengenai pemikiran Ir. Soekarno (Bung Karno) terhadap situasi politik serta geopolitik modern, dalam Diskusi dan Ngopi Bareng Cak Ony, dalam Rangka Peringatan Bulan Bungkarno “Pemikiran Soekarno dan Relevansinya”, dikantor DPC PDIP Kabupaten Tuban, Selasa (30/06/26).
Dalam diskusi yang berlangsung cukup gayeng tersebut, Ony Setiawan mengingatkan kembali salah satu dokumen politik dan hukum paling monumental dalam sejarah Indonesia, yaitu pidato pembelaan (pledoi) “Indonesia Menggugat”, yang di bacakan Bung Karno pada 2 Desember 1930 di depan pengadilan kolonial Belanda (Landraad) di Bandung.
“Pemikiran radikal Bung Karno tentang anti-kolonialisme dan imperialisme saat itulah yang melahirkan Marhaenisme, dan Pancasila yg di sampaikan bung karno dalam pidato 1 Juni lalu disempurnakan redaksinya hingga menjadi Pancasila seperti sekarang ini,” ujarnya.
“Sehingga bagi kader PDI Perjuangan, maka harus mengenal dan memahami pemikiran-pemikiran soekarno. Itu juga yang mendasari posisi PDI Perjuangan dalam pemerintah saat ini, dimana PDI Perjuangan sebagai partai penyeimbang,” lanjutnya.
Secara esensial, Marhaenisme kata anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim adalah ideologi yang berfokus pada pembelaan terhadap kaum “Marhaen”—yaitu rakyat kecil yang memiliki alat produksi sendiri namun hidupnya tetap melarat akibat sistem kapitalisme yang menindas.
Bung Karno jelas Ony merumuskan Marhaenisme ke dalam tiga pilar utama (Trikala) yakni Sosio-Nasionalisme, Nasionalisme yang berwatak sosial, menempatkan kemanusiaan dan keadilan di atas segalanya.
Sosio-Demokrasi, Demokrasi yang tidak hanya menuntut persamaan hak politik (pemilu), tetapi juga persamaan di bidang ekonomi, agar rakyat tidak kelaparan. serta Ketuhanan yang Maha Esa yakni aspek spiritual yang membentengi perjuangan agar tetap berada pada koridor kemanusiaan yang beradab.
”Bagi Bung Karno, Indonesia merdeka bukanlah akhir perjuangan, melainkan sebuah ‘jembatan emas’ untuk mencapai masyarakat yang adil, makmur, dan bebas dari penindasan,” ucap Ony.
Ony juga menegaskan bahwa Pancasila yang disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945 merupakan hasil proses “menggali” bumi Indonesia, dengan Marhaenisme sebagai pisau analisisnya.
Pancasila lanjutnya tidak boleh sekadar menjadi hafalan teks formal, melainkan jiwa penuntun untuk menghapus sistem penindasan manusia atas manusia (l’exploitation de l’homme par l’homme).
“Bagi Bung Karno, Pancasila adalah philosophische grondslag (landasan filosofis) dan Weltanschauung (pandangan hidup) yang digali dari nilai-nilai asli bumi Indonesia. Dan
Marhaenisme adalah Pisau Analisa (jiwa penuntun/Ideologi) yang memastikan Pancasila tidak sekadar menjadi hafalan teks formal atau pajangan di dinding kelas,” ucapnya.
Dijelaskan Ony, Marhaenisme mengingatkan kita semua bahwa tujuan akhir dari ber-Pancasila dan bernegara adalah tidak adanya sistem penindasan manusia atas manusia dan terciptanya kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sehingga diera abad ke 21 ini, Marhaenisme kata Ony justru sangat kontekstual karena wajah kemelaratan telah berubah bentuk.
“Jika dahulu kolonialisme bersifat fisik, hari ini imperialism menjelma menjadi Neoliberalisme dan Neokolonialisme yang menciptakan ketergantungan ekonomi pada investasi asing yang tidak berpihak pada lokal,” pungkas anggota DPRD Jatim dari Daerah Pemilihan (Dapil) Tuban – Bojonegoro. (ari)

