Surabaya, MercuryFM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi perhatian publik. Di tengah kekhawatiran masyarakat soal kenaikan harga dan kondisi ekonomi, pakar perbankan Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Andi Estetiono, mengingatkan agar masyarakat tidak mengambil keputusan keuangan secara emosional.
Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi UNAIR itu menilai gejolak kurs tidak hanya berdampak pada harga barang, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi perbankan nasional. Mulai dari likuiditas valas, risiko pasar, hingga kemampuan debitur yang memiliki pinjaman dalam dolar AS.
Namun di tengah situasi tersebut, Andi mengajak masyarakat tetap tenang dan bijak mengelola keuangan keluarga. Menurutnya, kepanikan justru dapat memperburuk keadaan.
“Fokus pada kebutuhan, bukan keinginan. Tidak perlu panik menghadapi pelemahan rupiah,” ujarnya.
Andi menyarankan masyarakat mulai memperkuat pengelolaan keuangan dengan menerapkan diversifikasi investasi. Ia mengibaratkan pengelolaan aset seperti pepatah lama, jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.
Karena itu, dana yang dimiliki sebaiknya dibagi ke beberapa instrumen, seperti tabungan, deposito, logam mulia, saham, maupun investasi sektor riil yang masih memiliki prospek pertumbuhan.
Di sisi lain, Andi juga mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan terhadap sistem perbankan nasional. Ia menilai pemerintah bersama Bank Indonesia, OJK, LPS, dan Kementerian Keuangan perlu terus menjaga stabilitas ekonomi agar tidak muncul kepanikan seperti yang pernah terjadi saat krisis 1998.
Pesan yang paling relevan bagi masyarakat saat ini, menurut Andi, adalah memperkuat literasi keuangan dan lebih bijak mengatur pengeluaran rumah tangga.
“Respons terbaik bukan panik, tetapi mengelola keuangan dengan cerdas dan melihat peluang di tengah tantangan,” katanya.
Di tengah kurs rupiah yang terus berfluktuasi, pesan sederhana ini menjadi pengingat bahwa ketenangan dan pengelolaan keuangan yang tepat sering kali lebih berharga daripada keputusan yang diambil karena rasa takut. (lam)

