Surabaya, MercuryFM – Heboh.
Itulah kesan pertama. Saat mendengar usulan ini.
Anggota DPRRI Komisi VII dari Fraksi Gerindra, Rahmawati. Mengusulkan sesuatu yang benar-benar baru.
Dia mengusulkan agar pemerintah membangun 1.000 bioskop. Di desa-desa. Anggarannya diambil dari APBN 2027.
Rahmawati memikirkan nasib para pembuat film kita. Khususnya Production House (PH) kecil. Yang tumbuh dan berjuang di daerah-daerah.
Selama ini, nasib mereka memang sering berujung gigit jari. Bikin film susah payah. Modal patungan dari kantong sendiri. Syuting berminggu-minggu. Tapi setelah filmnya jadi, bingung mau diputar di mana.
Masuk jaringan bioskop raksasa di mal-mal itu susahnya minta ampun. Apalagi menembus pasar global. Syaratnya berlapis. Kualitas teknis harus standar internasional.
Tujuannya mulia. Agar film nasional bangkit. Agar tidak terus-menerus digempur oleh film asing. Dan tentu saja, agar rakyat desa mendapat hiburan yang layak.
Luar biasa. Idenya sangat out of the box.
Tapi, mari kita hitung-hitungan. Ala orang awam saja. Membangun 1.000 bioskop itu tidak murah. Satu gedung bioskop butuh tanah. Butuh dinding kedap suara. Butuh layar lebar yang standar. Proyektor digital resolusi tinggi. AC sentral. Dan kursi empuk yang bisa rebahan.
Anggaplah membangun satu bioskop desa butuh Rp5 miliar. Kalikan 1.000. Sudah Rp5 triliun.
APBN 2027 pasti penuh tekanan. Banyak program prioritas yang harus didanai. Makan bergizi gratis. Infrastruktur. Pendidikan.
Lalu tiba-tiba masuk pos baru: bioskop desa. Menteri Keuangan nanti pasti garuk-garuk kepala. Uang Rp5 triliun itu besar. Bisa dipakai untuk memperbaiki ribuan irigasi sawah yang rusak. Atau menebus subsidi pupuk yang selalu diteriaki langka oleh petani.
Itu baru soal biaya bangun. Belum operasionalnya.
Siapa yang bayar listriknya? Bayar pegawainya? AC bioskop itu sangat boros. Perawatannya mahal.
Lalu, siapa yang jadi penontonnya?
Rakyat desa memang butuh hiburan. Saya setuju itu. Dulu kita punya tradisi layar tancap. Misbar. Gerimis bubar. Gratis. Menyatukan seluruh warga di lapangan bola.
Tapi bioskop modern itu berbayar. Kalau tiketnya Rp30 ribu, apakah petani mau menonton? Apalagi saat harga gabah sedang turun?
Kalau digratiskan, siapa yang nomboki biaya putar filmnya? APBN lagi? APBD? Atau memotong dana desa? Bisa-bisa kepala desa puyeng memikirkan subsidi tiket bioskop warganya.
Namun, ada sisi positifnya. Dampak sosial dan ekonominya.
Jika proyek ini jalan, sineas kita akan panen raya. Pasar penonton mereka membesar berlipat ganda. Selama ini film nasional kita hanya jago di mal-mal. Di desa, hiburannya terbatas pada sinetron televisi. Atau scroll TikTok pakai kuota.
Bioskop ini juga bisa jadi pusat keramaian baru. Anak-anak muda Gen Z di desa tidak perlu lagi jauh-jauh naik motor ke kota kabupaten hanya untuk nongkrong malam minggu.
Ini bagus. Bisa menekan rasa minder orang desa. Desa jadi punya gaya hidup a la kota. Nanti akan muncul warung kopi di sebelah bioskop. Ada warga yang jual popcorn lokal. Ekonomi berputar. Tukang parkir ikut panen.
Itu skenario terindahnya.
Namun risikonya juga membayangi. Proyek seperti ini rawan mangkrak.
Kita punya banyak pengalaman buruk. Gedung kesenian megah dibangun di daerah. Diresmikan pakai pita. Sebulan dua bulan ramai. Setelah itu sepi. Berdebu. AC rusak dibiarkan. Akhirnya jadi sarang kelelawar.
Jangan sampai 1.000 bioskop desa bernasib sama. Gedungnya ada, tapi akhirnya dipakai untuk gudang pupuk. Atau halamannya untuk tempat menjemur gabah.
Mungkin kita tidak perlu membangun gedung baru.
Kenapa tidak bekerja sama dengan balai desa saja? Atau lapangan desa? Hidupkan lagi layar tancap. Tapi versi modern. Layarnya LED big screen. Sound systemnya canggih.
Itu jauh lebih terjangkau secara pembiayaan. Lebih merakyat. Dan lebih masuk akal untuk postur APBN kita. Hiburan dapat, film nasional terbantu, uang negara pun selamat.
Atau mungkin, pikiran saya yang terlalu konvensional alias ndeso. Belum bisa membayangkan seorang petani, pulang dari sawah, mandi bersih, pakai minyak wangi, lalu duduk santai di kursi beludru menonton film layar lebar sambil makan popcorn.
Entahlah. Kita tunggu saja kehebohan berikutnya. (ari)

