Surabaya, MercuryFM – Produksi beras Jawa Timur justru melonjak di tengah penyusutan lahan sawah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat produksi beras 2025 mencapai 6,03 juta ton, naik 12,60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, capaian ini menyisakan pertanyaan serius tentang keberlanjutan produksi pangan di tengah terus menyusutnya lahan baku sawah akibat alih fungsi.
Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur, Ike Rahayu Sri, menyebut lonjakan produksi terutama didorong oleh peningkatan luas panen dan efektivitas pola tanam, khususnya pada periode Januari–April.
“Kenaikan produksi beras Jawa Timur tahun 2025 terutama karena meningkatnya luas panen, terutama pada Subround I yang pertumbuhannya paling tinggi,” ujar Ike.
Sepanjang 2025, produksi Gabah Kering Giling (GKG) tercatat 10,44 juta ton, naik dari 9,27 juta ton pada 2024. Luas panen pun meningkat menjadi 1,84 juta hektare atau tumbuh 13,88 persen secara tahunan.
Namun di saat yang sama, Luas Lahan Baku Sawah (LBS) Jawa Timur justru menyusut menjadi 1.207.977 hektare, berkurang sekitar 6.932 hektare dibandingkan 2019.
Ini menjadi sinyal bahwa peningkatan produksi saat ini masih sangat bergantung pada intensifikasi lahan, bukan pada perluasan basis pertanian yang berkelanjutan.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa lonjakan produksi belum tentu mencerminkan ketahanan pangan jangka panjang. Intensifikasi tanpa diimbangi perlindungan lahan berisiko meningkatkan tekanan terhadap petani, kualitas tanah, dan keberlanjutan lingkungan.
Meski demikian, pemerintah tetap optimistis menghadapi awal 2026. Potensi luas panen Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 0,65 juta hektare dengan produksi sekitar 3,73 juta ton GKG atau setara 2,15 juta ton beras. Namun, tanpa kebijakan tegas pengendalian alih fungsi lahan, optimisme tersebut berpotensi rapuh.
Tantangan ke depan bukan hanya menjaga produksi tetap tinggi, tetapi memastikan ketersediaan lahan sawah tetap terlindungi agar ketahanan pangan tidak bersifat semu.(red)

