Surabaya, MercuryFM – Perjumpaan lintas budaya tak selalu harus berlangsung di panggung megah atau ruang museum. Di Sekolah NSA Surabaya, pertemuan itu justru dimulai dari benda sederhana yaitu papan telenan. Melalui kegiatan Commtech Insight 2026, puluhan mahasiswa dan dosen asing dari berbagai negara diajak mengenal budaya Nusantara secara langsung dan interaktif, Kamis (29/1/2026).
Para tamu internasional mengikuti kegiatan melukis papan telenan dengan motif batik kawung, salah satu motif batik klasik Jawa yang sarat filosofi. Setiap guratan warna menjadi media dialog lintas bangsa, tentang keseharian masyarakat Indonesia, nilai kesederhanaan, kebersamaan, serta keseimbangan hidup yang tercermin dalam motif tersebut.
Batik kawung dikenal sebagai motif tua yang berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Motif bulatan simetris menyerupai kolang-kaling ini melambangkan empat arah mata angin, keteraturan hidup, kesucian, dan kontrol diri. Di masa lalu, motif ini kerap digunakan para bangsawan sebagai simbol kehormatan dan kebijaksanaan.
Penyambutan rombongan mahasiswa dan dosen asing semakin semarak dengan penampilan Tari Jejer Jaran Dawuk, tarian khas Banyuwangi yang berasal dari kesenian Gandrung. Tarian ini melambangkan rasa syukur atas panen melimpah sekaligus menjadi tari penyambutan tamu. Gerakannya yang tegas namun anggun mencerminkan karakter masyarakat Banyuwangi yang ramah, kuat, dan berakar pada tradisi.
Tak hanya itu, siswa-siswi SMP NSA juga menampilkan keberagaman budaya sekolah melalui alunan guzheng, pertunjukan wushu, serta pengenalan alat musik tradisional Nusantara seperti gamelan, angklung, dan kulintang.
Para tamu internasional tampak antusias mencoba langsung berbagai kesenian tersebut, merasakan bahwa budaya Indonesia bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman yang hidup.
Salah satu peserta, Nun, mahasiswa asal Thailand, mengaku terkesan dengan kehangatan budaya Indonesia.
“Indonesia so welcome… I feel like I’m home,” ujar Nan, usai mengikuti kegiatan membatik dan bermain musik tradisional bersama para siswa.
Ia menilai produk budaya Indonesia sangat indah dan beragam, serta kagum melihat potensi para siswa dalam menguasai seni tradisional. Menurutnya, pengalaman belajar batik dan musik Indonesia membuatnya merasa dekat dengan budaya Nusantara dan suasana kebersamaan yang hangat.
Melalui kegiatan ini, Sekolah NSA menegaskan komitmennya sebagai ruang belajar lintas budaya yang tak hanya berorientasi akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai toleransi, pelestarian budaya, dan keterbukaan global. Sekolah berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai bagian dari diplomasi budaya dan pendidikan internasional. (lam)

