Jakarta, MercuryFM – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi belum mengubah arah kebijakan moneter Bank Indonesia. BRI Danareksa Sekuritas menilai risiko kenaikan suku bunga acuan masih rendah, seiring stabilnya likuiditas domestik dan efektivitas bauran kebijakan bank sentral.
Dalam laporan Macro Strategy terbaru, BRI Danareksa menyebut pelemahan rupiah sejak awal 2026 lebih mencerminkan penyesuaian bertahap, bukan gejolak yang tidak teratur. Rupiah tercatat melemah sekitar 0,7 persen secara year to date dan sempat menyentuh level Rp16.950 per dolar AS akibat penguatan dolar global serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
BRI Danareksa juga menilai kenaikan imbal hasil Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia atau SRBI bukan sinyal pengetatan moneter, melainkan bagian dari kalibrasi likuiditas jangka pendek agar tetap selaras dengan kondisi risiko pasar.
Dari sisi domestik, pertumbuhan kredit per Desember 2025 meningkat menjadi 9,69 persen secara tahunan, menunjukkan transmisi kebijakan moneter masih berjalan efektif dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan cadangan devisa yang tetap tinggi di level 156,5 miliar dolar AS serta tekanan dolar global yang mulai mereda, BRI Danareksa optimistis stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga memasuki 2026 di tengah dinamika global. (lam)

