Surabaya, MercuryFM – Kinerja impor nonmigas Jawa Timur sepanjang Januari hingga September 2025 menunjukkan dinamika yang menarik. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 3 November 2025, kelompok komoditas mesin dan peralatan mekanis masih menjadi penyumbang terbesar dalam struktur impor provinsi ini.
Komoditas tersebut memiliki pangsa 10,70 persen terhadap total impor nonmigas Jawa Timur. Jika dibandingkan periode yang sama pada 2024 (c-to-c), nilai impornya tumbuh 8,01 persen, diikuti peningkatan volume sebesar 7,08 persen dan kenaikan tipis pada rata-rata harga per ton sebesar 0,87 persen.
Meski demikian, lonjakan tertinggi terjadi pada komoditas perhiasan atau permata. Dengan share 6,95 persen, nilai impornya meroket hingga 121,48 persen, disertai peningkatan volume 15,13 persen dan kenaikan signifikan pada nilai satuan sebesar 160,96 persen. Pertumbuhan ini menunjukkan tingginya kebutuhan industri terhadap bahan baku bernilai tinggi.
Sementara itu, besi dan baja sebagai komoditas dengan pangsa 6,51 persen mengalami kontraksi nilai impor sebesar 1,69 persen, meskipun volumenya meningkat 14,54 persen. Hal ini menunjukkan adanya penurunan harga global yang memengaruhi total transaksi impor komoditas tersebut.
Tiongkok tetap jadi mitra impor utama
Berdasarkan negara asal, Tiongkok masih mendominasi impor nonmigas Jawa Timur dengan share 35,51 persen atau senilai US$6,39 miliar. Komoditas utama yang diimpor dari Tiongkok mencakup:
Mesin dan peralatan mekanis (HS 84): US$958,34 juta (15,00%)
Buah-buahan (HS 08): US$779,72 juta (12,20%)
Besi dan baja (HS 72): US$636,53 juta (9,96%)
Amerika Serikat menyusul dengan kontribusi 6,03 persen atau senilai US$1,08 miliar, yang didominasi oleh:
Biji dan buah mengandung minyak (HS 12): US$245,07 juta (22,59%)
Ampas dan sisa industri makanan (HS 23): US$148,46 juta (13,53%)
Mesin dan peralatan mekanis (HS 84): US$120,09 juta (11,07%)
Di posisi berikutnya, Brazil menyumbang US$0,78 miliar atau 4,37 persen, dengan komoditas impor terbesar berupa:
Ampas industri makanan (HS 23): US$511,30 juta (65,86%)
Gula dan kembang gula (HS 17): US$77,30 juta (10,28%)
Tembakau dan rokok (HS 24): US$60,45 juta (7,79%)
Struktur impor perlu diantisipasi
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jawa Timur, Debora Sulistya Rini, M.Si, menyampaikan bahwa pola impor saat ini menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap ketergantungan pada negara tertentu.
“Dominasi impor dari Tiongkok masih sangat kuat, terutama untuk barang-barang modal dan bahan baku industri. Kondisi ini perlu menjadi perhatian agar struktur impor kita tetap sehat dan tidak terlalu bergantung pada satu negara pemasok,” ungkap Debora.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa lonjakan pada komoditas perhiasan menandakan adanya peningkatan aktivitas industri bernilai tambah serta permintaan pasar yang terus tumbuh.
“Pertumbuhan impor perhiasan dan permata yang sangat tinggi mencerminkan adanya dinamika industri yang semakin kompetitif, namun kita juga perlu memastikan bahwa peningkatan tersebut memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah,” pungkasnya.
Dengan perkembangan tersebut, pelaku industri dan pemerintah daerah diharapkan terus memantau stabilitas pasokan serta diversifikasi negara asal impor untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. (lam)

