Surabaya, MercuryFM – Suasana pusat kota Surabaya pada Selasa (29/10/2025) berubah menjadi ruang penyampaian suara kritik terbuka. Ratusan mahasiswa dari Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) turun ke jalan menolak rencana pemerintah yang akan menetapkan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Aksi yang berlangsung di depan Gedung Grahadi tersebut, tidak hanya memuat penolakan simbolik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa luka pelanggaran HAM di masa Orde Baru belum pernah dipulihkan.
Dalam orasi yang bergantian, mahasiswa menyebut rezim Soeharto sebagai salah satu fase paling kelam dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Mereka menyinggung tragedi pembantaian 1965–1967, penculikan aktivis 1998, represi terhadap gerakan rakyat, hingga kekerasan negara yang masih berlanjut di Papua. Menurut mereka, penyematan gelar pahlawan tanpa pertanggungjawaban sejarah adalah bentuk penghapusaan memori kolektif korban.
“Bagaimana mungkin pelaku represi dijadikan teladan?” teriak salah satu orator dari atas mobil komando, disambut pekikan ‘Hidup mahasiswa!’ dari barisan massa.
Aparat kepolisian tampak berjaga ketat di sekitar lokasi aksi. Para mahasiswa bahkan sempat menyerukan agar polisi tidak bersikap represif dan kembali pada mandat konstitusional sebagai pelindung warga. Mereka menegaskan, kritik bukan kejahatan, dan aksi damai adalah bagian sah dari demokrasi.
Isu yang disuarakan tidak berhenti pada warisan masa lalu. Para peserta aksi juga menghubungkan sejarah kelam tersebut dengan ketidakadilan hari ini: pemerataan pendidikan yang belum tercapai, kekerasan negara terhadap warga sipil, hingga diskriminasi struktural yang masih dirasakan kelompok masyarakat rentan.
“Dari Sabang sampai Merauke, rakyat masih dipinggirkan. Papua menjadi bukti paling nyata bagaimana negara gagal melindungi warganya,” tutur seorang orator lainnya.
Bagi LMND, penolakan gelar pahlawan bagi Soeharto bukan semata soal simbol, tetapi soal kejujuran sejarah dan hak korban untuk diakui. Mereka menegaskan, ketika negara memilih melupakan, maka gerakan akar rumput wajib mengingatkan.
Aksi ini ditutup dengan seruan agar solidaritas antar-mahasiswa dan masyarakat sipil tetap dijaga. “Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi tidak akan mundur,” tegas koordinator aksi, menutup orasi dengan yel-yel perlawanan.
Bagi mereka, sejarah tidak boleh dipoles demi kepentingan politik. Luka bangsa tidak bisa ditutup dengan penghargaan. Dan keadilan tidak akan pernah lahir selama kebenaran tetap disembunyikan. (lam)

