Surabaya, MercuryFM – Bank Indonesia menginisiasi program bertajuk “Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren” sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi dan mendorong digitalisasi di Jawa Timur. Program ini menyasar sektor pangan strategis dengan membentuk klaster UMKM dan pesantren, serta berfokus pada peningkatan kualitas dan daya saing produk lokal.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan utama Bank Indonesia, pengembangan UMKM diarahkan pada korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan akses pembiayaan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan UMKM yang produktif, kompetitif, dan memiliki daya tahan tinggi. Program ini diluncurkan secara resmi pada Rabu (6/10), dengan harapan dapat meningkatkan produksi dan kemandirian UMKM serta pesantren agar mampu bersaing secara berkelanjutan.
Selain peningkatan kualitas, kesadaran masyarakat terhadap potensi UMKM dan pesantren di Jawa Timur juga dinilai penting. Dengan meningkatnya kesadaran ini, diharapkan permintaan dan penyerapan produk-produk lokal dapat lebih optimal.
Program “Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren” juga bertujuan untuk memberikan edukasi serta literasi mengenai kebijakan Bank Indonesia terkait stabilisasi harga dan digitalisasi kepada pemangku kepentingan melalui media massa.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Erwin Gunawan Hutapea, berharap bahwa kegiatan ini bisa menjangkau masyarakat luas dan menginspirasi UMKM lainnya. “Diharapkan, cerita sukses UMKM dan pesantren binaan Bank Indonesia dapat tersebar luas dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk mendukung pengembangan ekonomi lokal,” ujar Erwin pada Rabu (6/11/2024).
Dalam kegiatan ini, para peserta akan diajak mengunjungi beberapa klaster unggulan dan pesantren binaan Bank Indonesia. Contohnya adalah Klaster Bawang Merah di Sumenep yang dikelola oleh Koperasi Permata Indah Rubaru. Klaster ini fokus pada produksi bawang merah varietas unggul yang tahan penyakit dan dapat ditanam di luar musim. Dengan inovasi teknologi seperti penggunaan lightrap dan cold storage, kualitas produk tetap terjaga.
Ada juga Klaster Padi Organik di Mojokerto, yang dikelola oleh Perkumpulan Brenjonk. Klaster ini mengembangkan budidaya padi organik terintegrasi dan memanfaatkan digitalisasi dalam produksi, seperti penggunaan drone untuk pemupukan yang mampu menekan biaya hingga 15%. Klaster ini juga mengembangkan eduwisata dan wisata kuliner berbasis pertanian organik.
Selain itu, Pondok Pesantren Fathul Ulum di Jombang dan Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Mojokerto turut menjadi bagian dari program ini. Pesantren Amanatul Ummah, yang memiliki 11 unit usaha, menerapkan Internet of Things (IoT) dan digitalisasi pembayaran serta berhasil meraih juara III dalam ajang Ponpes Unggulan Fesyar Jawa 2024.
Melalui program ini, Bank Indonesia berharap dapat memperluas dukungan terhadap pengembangan ekonomi lokal, sekaligus menciptakan model kemandirian ekonomi berbasis pesantren dan UMKM yang bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. (dan)

