Jadi Cawali-Cawawali Surabaya harus populer dan punya relasi

Surabaya,MercuryFM – Ahli komunikasi politik Unair Suko Widodo mengatakan, syarat untuk menjadi calon wali kota dan calon wakil wali kota Surabaya haruslah personal yang populer.

Menurut Suko Widodo, karakter masyarakat urban atau kota, tidak lagi berbasis pada ideologi partai.

“Tetapi berbasis pada hubungan personalitas atau dalam artian, dia itu terkenal atau tidak. Kalau tidak populer itu berat untuk masuk ke kancah Surabaya,” jelasnya pada Senin (01/2024).

Lebih lanjut Suko Widodo mengatakan, relasi juga penting selain popularitas. Ada orang terkenal tetapi tidak punya relasi sosial, relasi politik.

“Misalnya dia itu orang NU, gereja, jadi dia harus punya dasar komunitas yang terukur,” imbuhnya.

Menurut Suko Widodo, kekuatan partai tidak lagi terlalu berperan. Karena hubungan partai sekarang ini sudah terkikis. Tidak seperti dulu, ketika orang kalau membela partai habis-habisan.

“Tingkat perubahan dari satu partai ke partai lain tinggi sekali. Pergeseran tren, yang pasti sosoknya itu harus profesional, orang itu ahli apa, pemerintahan, musik, dan lain-lain,” terangnya.

Berdasarkan sejumlah syarat tersebut, Suko Widodo menilai beberapa personal punya bekal yang cukup untuk berkontestasi di Pilkada Surabaya 2024. Mereka itu diantaranya Eri Cahyadi petahana wali kota Surabaya dan Armuji petahana wakil wali kota Surabaya, kemudian Hadi Dediansyah anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Jatim lalu Ahmad Dhani caleg jadi DPR RI partai Gerindra Dapil Jatim 1.

“Kalau boleh saya sebut, Dedi masuk. Terus pak Eri pasti, Armuji, orang-orang yang populer juga. Ahmad Dhani, dia suaranya banyak, populer. Dia punya modal keterkenalan yang memadai, jadi potensi juga,” jelasnya.

Suko Widodo kembali mengatakan kecenderungan di kota besar itu tidak ada personal yang mencapai level top sekali. Karenanya, Cawali harus mencari pasangan cawawali, yang bisa sama-sama mendulang suara.

Lalu bagaimana dengan calon independen non partai politik. Menurut Suko Widodo peluangnya berat. Karena harus melawan jaringan partai politik. Itu tidak cukup mudah.

“Di banyak pengalaman, independen justru muncul di daerah yang tingkat komunal masyarakatnya sama. Di kota agak susah mencari sosok seperti itu,” terangnya.

“Saya kira Surabaya secara historis ada dua partai kuat, PDIP dan PKB. Jadi garisnya hanya ada dua merah dan hijau,” pungkas Suko Widodo. (Iam)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist