Surabaya, MercuryFM — Pemandangan tak biasa tampak di internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur belakangan ini. Partai yang identik dengan konsolidasi organisasi dan kerja-kerja elektoral tersebut mendadak memperlihatkan geliat intelektual yang masif.
Sejumlah kader PKB di berbagai daerah, khususnya di tingkat Dewan Pimpinan Cabang (DPC), kini gencar menggelar diskusi buku bertema “Sosialisme Islam”. Fokus utama kegiatan ini adalah membedah buah pemikiran dua tokoh besar, yakni Ali Syariati dan HOS Tjokroaminoto.
Sekilas, kegiatan ini tampak seperti agenda literasi pada umumnya. Namun, di tengah kultur politik praktis yang serba instan, langkah serius PKB Jatim membedah pemikiran tentang keadilan sosial dan perjuangan rakyat ini memunculkan tanya: ada agenda apa di balik gerakan ini?
Sekretaris DPW PKB Jawa Timur, Multazamudz Dzikri, memberikan penjelasan di balik masifnya gerakan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar agenda membaca buku, melainkan momentum krusial untuk memperkuat kesadaran ideologis sekaligus membangun kembali semangat perjuangan kader.
Ia menegaskan bahwa kader partai tidak boleh terjebak memaknai politik semata-mata sebagai instrumen untuk meraih kekuasaan. Lebih dari itu, ada nilai-nilai fundamental dan keberpihakan kepada masyarakat yang wajib dirawat.
”PKB bukan saja entitas partai politik yang selama ini digambarkan sebagai jalan merebut kekuasaan, lebih jauh dari itu, PKB merupakan wadah perjuangan bagaimana keadilan itu didapatkan,” ungkap Multazamudz, Minggu (08/11/26).
Pernyataan ini menjadi kritik tersendiri di tengah kecenderungan politik modern yang kerap hanya diukur dari perolehan suara dan perebutan jabatan semata.
“Melalui pemikiran Ali Syariati dan HOS Tjokroaminoto, para kader diajak mendalami kembali relasi erat antara agama, pembebasan, keadilan sosial, dan keberpihakan nyata kepada rakyat kecil,” ucap Multazam sapaa akrabnya.
Multazam juga mengatakan geliat diskursus ini merupskan langkah strategis untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual di lingkungan partai. Multazamudz menilai, kecakapan berorganisasi dan keterampilan politik praktis saja belum cukup jika tidak didasari oleh kedalaman pemikiran.
“Sebab, tanpa landasan pemikiran yang kuat, politik berisiko berhenti sebagai rutinitas perebutan kekuasaan. Kader bisa saja aktif dalam struktur partai, tetapi kehilangan kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.
Ke depan, PKB Jatim kata Anggota Fraksi PKB DPRD Jatim ini, berkomitmen agar para kadernya selalu berdiri membersamai masyarakat tidak hanya hadir musiman ketika mendekati momentum pemilu atau agenda politik praktis tertentu.
”Kader harus hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan, mendengar aspirasi, sekaligus ikut memperjuangkan jalan keluarnya,” pungkas Legilator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Pasuruan – Probolinggo. (ari)
