Sidoarjo, MercuryFM – Menjadi dokter spesialis bedah onkologi ternyata tidak membuat dr. Wahyu Nur Chalamsah Setiawan berhenti menuntut ilmu. Di tengah kesibukan profesinya, ia justru mengambil pendidikan S1 Fakultas Hukum Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA).
Langkah tersebut menjadi salah satu cerita menarik dalam Wisuda Magister, Sarjana, dan Diploma ke-24 UMAHA yang diikuti 525 wisudawan di Dyandra Convention Center Surabaya, Sabtu (7/11/2026).
Rektor UMAHA, dr. Hidayatullah, Sp.N., menilai keputusan dokter spesialis tersebut memperlihatkan pentingnya pengembangan kompetensi lintas disiplin. Terlebih, persoalan sengketa medik menjadi isu sensitif yang membutuhkan pemahaman hukum.
Menurut Hidayatullah, dokter perlu membekali diri dengan pengetahuan hukum agar memiliki pemahaman lebih luas dalam menjalankan profesinya.
“Sekarang ini sengketa medik cukup banyak dan menjadi hal yang sensitif. Maka dokter-dokter perlu membekali dirinya dengan pengetahuan tentang hukum,” ungkap Hidayatullah.
Ia mengaku bangga karena UMAHA dipercaya kalangan profesional, termasuk dokter spesialis yang bahkan telah memiliki kompetensi subspesialis, untuk melanjutkan pendidikan di bidang berbeda.
Pengalaman Kerja Bisa Dikonversi Menjadi SKS
Hidayatullah menjelaskan, UMAHA menyediakan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi mahasiswa yang memiliki pengalaman kerja maupun pendidikan sebelumnya.
Melalui program ini, pengalaman profesional, pelatihan, sertifikasi, hingga pendidikan yang pernah ditempuh dapat dinilai untuk dikonversi menjadi satuan kredit semester (SKS) sesuai ketentuan.
Dengan demikian, mahasiswa hanya perlu menyelesaikan sisa SKS yang belum diakui untuk menuntaskan pendidikan.
Menurutnya, kesempatan kuliah di UMAHA terbuka bagi berbagai latar belakang profesi. Selain dokter yang mengambil hukum, terdapat pula kalangan kepolisian yang melanjutkan pendidikan manajemen hingga jenjang magister.
Usia 60 Tahun Baru Raih Gelar Sarjana
Selain dokter spesialis yang kuliah hukum, wisuda ke-24 UMAHA juga menghadirkan kisah Juyana. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Kewirausahaan pada usia 60 tahun.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa usia bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Juyana mengaku bersyukur dapat menyelesaikan kuliah dan mengikuti prosesi wisuda bersama ratusan lulusan lainnya.
“Saya ingin membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk meraih cita-cita. Selama masih ada kemauan dan kesempatan, jangan pernah takut untuk memulai,” tuturnya.
Dua kisah tersebut mendapat apresiasi khusus dari Rektor UMAHA. Hidayatullah menilai semangat belajar sepanjang hayat harus terus dibangun, baik bagi masyarakat umum maupun kalangan profesional.
Rektor UMAHA: Lulusan Harus Adaptif Hadapi Tantangan Ekonomi
Di sisi lain, Hidayatullah mengingatkan 525 wisudawan agar tidak takut menghadapi situasi ekonomi yang penuh tantangan dan persaingan lapangan kerja yang semakin ketat.
Ia meminta lulusan tetap optimistis, menjaga adab, serta mampu menyesuaikan kompetensi dengan kebutuhan dunia kerja.
“Jangan takut dengan keadaan saat ini yang populer dengan krisis ekonomi. Tetap positif, insyaallah nanti akan ada jalan. Husnuzan selalu kepada Allah,” pesannya.
Ia juga mengingatkan lulusan agar tidak terpaku pada pekerjaan yang harus selalu sesuai dengan bidang pendidikan.
Bekal ilmu selama kuliah perlu disesuaikan dengan kondisi dan peluang yang tersedia. Fleksibilitas menjadi salah satu modal penting untuk menghadapi persaingan kerja.
“Tidak perlu kemudian memaksakan diri harus sesuai bidang. Bisa saja seperti itu. Jadi, fleksibilitas terhadap kondisi saat ini cukup diperlukan,” tegasnya.
Menurut Hidayatullah, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari gelar akademik. Ilmu dan adab yang diperoleh selama kuliah harus diterapkan dalam kehidupan serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Wisuda ke-24 UMAHA pun menghadirkan pesan bahwa pendidikan tidak berhenti setelah seseorang memperoleh gelar atau mencapai profesi tertentu. Justru, kemauan untuk terus belajar dan kemampuan beradaptasi menjadi bekal penting menghadapi perubahan zaman. (lam)
