Surabaya, MercuryFM – Hadirnya ribuan masyarakat dalam pegelaran wayang kulit dalam rangkaian HUT ke-81 Penprov Jatim yang digelar DPRD Jatim di depan gedung DPRD Jatim, Jl Indrapura, tidak hanya dilihat sebagai bentuk kerinduan akan seni tradisi, tetapi juga memancarkan sinyal positif dari sudut pandang ekonomi dan sosial.
Hal ini ditegaskan Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim Lilik Hendarwati disela pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Arif Sarjono, yang juga di diisi dengan penampilan pelawak Kirun, Kadir dan Percil Cs, Kamis (29/10/26).
Menurut Lilik, antusiasme masyarakat pada pagelaran wayang kulit dengan lakon “Wahyu Jitabsara” tersebut, memberikan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar agenda rutin pelestarian budaya.
”Dari sudut pandang Komisi C, antusiasme masyarakat tersebut merupakan sinyal bahwa kebudayaan memiliki nilai sosial sekaligus potensi ekonomi yang perlu dikembangkan,” ujar Lilik Hendarwati.
Sebagai anggota komisi C yang membidangi keuangan dan pengelolaan aset daerah, Lilik memaparkan empat pesan strategis yang perlu menjadi perhatian bersama dalam pengembangan seni budaya di Jawa Timur.
Pertama, budaya adalah investasi Daerah, bukan sekadar pengeluaran APBD. Sehingga pihaknya kata Lilik menegaskan bahwa anggaran kebudayaan tidak boleh dipandang sebagai beban atau sekadar pengeluaran seremoni dalam APBD.
“Anggaran tersebut harus dilihat dari sejauh mana manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat, mulai dari pendidikan karakter, penguatan identitas daerah, hingga penciptaan peluang ekonomi baru,” tegasnya.
Yang kedua seni budaya adalah penggerak ekosistem ekonomi kreatif dan UMKM. Sehingga lanjutnya dengan banyaknya masyarakat yang hadir, menjadi bukti nyata adanya potensi pasar ekonomi kreatif yang besar.
Pagelaran seni budaya kata Lilik terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat di sekitarnya, mulai dari pelaku UMKM kuliner, perajin kostum, jasa tata panggung, hingga para pekerja seni.
“Ini menjadi peluang emas untuk membangun ekosistem ekonomi berbasis budaya secara komprehensif,” tegasnya.
Ketiga, dengan antusiasnya warga dalam menyaksikan gelaran wayang kulit ini, dirinya akan mendorong agar gedung pertunjukan, ruang publik, serta berbagai aset milik pemerintah daerah dapat dimanfaatkan secara lebih produktif untuk kegiatan seni pertunjukan yang terjadwal.
“Tata kelola yang baik tidak hanya memperluas akses masyarakat terhadap seni, tetapi juga berpotensi menambah penerimaan daerah yang sah,” ujarnya.
Terakhir yang keempat, Lilik mengingatkan agar komitmen pelestarian budaya tidak berhenti pada satu acara pertunjukan yang sukses saja. Perlu ada ruang seluas-luasnya bagi seniman muda, kolaborasi antar-komunitas, serta penyusunan agenda kebudayaan secara konsisten dengan dampak yang dapat terukur.
”Melalui sinergi antara pelestarian nilai tradisi dan pengelolaan potensi ekonomi yang tepat, pagelaran seni budaya di Jawa Timur diharapkan tidak hanya memperkokoh identitas daerah, tetapi juga memberikan dampak kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat luas,” pungkas Legislator daerah pemilihan (Dapil) Surabaya ini. (ari)

