Menteri LH Apresiasi Kampung Pancasila Surabaya: Contoh Kepedulian Lingkungan dan Sosial

Surabaya, MercuryFM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi meluncurkan Lomba Kampung Pancasila 2026 yang melibatkan 1.360 RW se-Kota Pahlawan. Program ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi antarwilayah, tetapi juga diarahkan untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat kampung.

Peluncuran ditandai dengan tabuhan kentongan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan perwakilan pengurus RW di Balai Kota Surabaya, Kamis (17/9/2026).

Program tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Lingkungan Hidup RI Mohammad Jumhur Hidayat. Menurutnya, Kampung Pancasila merupakan bentuk nyata penerapan nilai-nilai Pancasila melalui aksi sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Mari kita jadikan momentum ini untuk mewujudkan kampung yang bersih, sehat, hijau, dan berkelanjutan. Dimulai dari mengurangi dan memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta mengolah dan memanfaatkan kembali sampah yang masih bernilai,” ujar Jumhur dalam pesannya.

Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan, Lomba Kampung Pancasila bukan sekadar perlombaan mencari kampung terbaik. Program ini menjadi upaya untuk memperkuat kembali budaya gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan utama masyarakat Surabaya.

Menurut Eri, kemajuan Kota Surabaya tidak ditentukan oleh wali kota semata, melainkan oleh kekompakan warga, pengurus RT, RW, hingga Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) yang menjaga semangat kebersamaan di lingkungan masing-masing.

“Surabaya bisa maju bukan karena wali kotanya, melainkan karena warga, Ketua RT, RW, dan LPMK yang menopangnya dengan nilai gotong royong. Jika hari ini masih ada warga miskin atau tidak mampu yang terlewat dari bantuan, itu tanda gotong royong kita yang perlu dibenahi,” tegas Eri.

Ia juga mengingatkan pentingnya nilai Pancasila sebagai perekat bangsa. Eri mengisahkan keyakinan Presiden Soekarno bahwa Indonesia akan tetap berdiri kokoh karena memiliki fondasi Pancasila yang menyatukan keberagaman.

Dalam pelaksanaannya, Kampung Pancasila 2026 akan dinilai berdasarkan empat indikator utama, yakni penguatan ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan usaha warga, pemeliharaan toleransi dan kepedulian sosial, pengelolaan lingkungan yang meliputi sampah dan penghijauan, serta keaktifan warga dalam menyelesaikan persoalan kampung secara bersama-sama.

“Indikator lainnya yang menjadi penilaian adalah keaktifan warga dan pengurus kampung dalam menyelesaikan persoalan wilayah secara bersama,” ujarnya.

Untuk memastikan program berjalan optimal, Pemkot Surabaya menugaskan seluruh Perangkat Daerah (PD) menjadi pendamping wilayah. Eri menegaskan, setiap PD wajib turun langsung memberikan contoh dan pembinaan kepada warga.

Bahkan, ia menyiapkan evaluasi khusus bagi PD yang dinilai tidak serius mendampingi kampung binaannya. Sanksi simbolis berupa bendera hitam akan diberikan kepada perangkat daerah yang gagal menjalankan tugas pendampingan.

“Mari kita bergerak bersama, pastikan zakat, infak maupun bantuan sosial berputar dahulu untuk mengentaskan kemiskinan di kampung sendiri sebelum keluar. Dengan gotong royong, kita wujudkan Surabaya yang sejahtera dan berkeadilan,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Eri juga menegaskan bahwa penentuan penerima bantuan sosial di Surabaya tidak lagi hanya bergantung pada sistem desil administrasi. Penentuan prioritas bantuan akan dilakukan melalui musyawarah kelurahan bersama warga dan pengurus RT/RW agar lebih sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Melalui Kampung Pancasila 2026, Pemkot Surabaya berharap semangat kebersamaan, kepedulian sosial, dan kemandirian warga dapat semakin kuat sehingga mampu menjadi fondasi pembangunan kota yang berkelanjutan. (lam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist