Surabaya, MercuryFM- Legislator Fraksi Gerindra DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko menegaskan, nominal Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa SD sampai SMP senilai Rp 10 ribu per porsi, seperti yang disampaikan Presiden Prabowo, relevan untuk direalisasikan.
“Sekali lagi yang perlu digaris bawahi adalah, MBG ini untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang diantaranya kebutuhan kalori dan protein yang cukup saat pagi hari. Sebelum menjalani proses belajar di sekolah. Jadi tidak untuk membuat kenyang,” jelasnya pada Senin (02/11/2024).
Ketua Komisi A DPRD Surabaya tersebut merinci kebutuhan kalori siswa SD dan SMP sehari, yaitu antara 1600 kilo kalori sampai 2200 kilo kalori.
“Kebutuhan total sehari tersebut dibagi tiga. Maka akan sangat relevan ketika Presiden menyampaikan per porsi itu range antara 700 sampai 800 kilo kalori. Kalau di nominalkan maka 10 ribu itu proporsional. Kita garis bawah lagi, bahwa ini bukan menu untuk orang dewasa,” terangnya.
Lebih lanjut Yona merinci bagimana nominal Rp 10 ribu MBG per porsi itu bisa memenuhi kebutuhan nutrisi anak di pagi hari.
“Kita diprioritaskan menggunakan beras non impor dengan porsi 150 gram Sedangkan lauk ayam 80 gram tanpa kulit. Kalau dihitung nasi sama lauk ayam sekitar Rp 4000. Sayur ditambah Rp 1500. Kemudian buah segar Rp 1000. Lalu soal air mineral kita harapkan sekolah menyediakan air dispenser tinggal dipikirkan packagingnya,” jelasnya.
“Apakah ini sudah include susu. Kembali lagi bahwa susu ini untuk memenuhi kebutuhan protein. Mungkin protein di susu bisa disubtitusi dengan lauk atau sayur yang berprotein tinggi contoh kacang-kacangan,” imbuhnya.
Lebih lanjut menurut Yona mengawali program nasional MBG diperlukan keterlibatan semua pihak. Mulai dari UMKM, ahli gizi, sampai psikolog lewat kerjasama dengan PTN atau PTS. Psikolog ini penting, untuk mengukur progress belajar anak ketika diberikan sarapan MBG.
“Pemkot juga harus melibatkan Puskesmas sebagai monitoring. Karena berdasarkan pengalaman saya saat melakukan uji coba MBG selama hampir satu bulan di SDN Kedurus 1. Ada siswa yang tidak terbiasa sarapan, kemudian mules saat diberikan sarapan gratis. Hal-hal seperti ini perlu penanganan dari Puskesmas,” ujarnya.
Kemudian yang tidak kalah penting yaitu mempelajari cara distribusinya. Jangan sampai MBG yang seharusnya diberikan untuk sarapan siswa, datangnya diantara setelah waktu sarapan dan makan siang.
“Kalau hal ini terjadi tentunya akan mematikan pelaku UMKM di sekitar sekolah. Penjual makanan dikantin misalnya,” imbuhnya.
Yona menambahkan dengan nominal Rp 10 ribu per porsi MBG, APBD Surabaya bisa saving kurang lebih 30 persen dari rencana anggaran semula, sejumlah Rp 15 ribu per porsi. (Lam)

