Surabaya, MercuryFM – Tim Pemenangan paslon nomor 03 Risma-Gus Hans menemukan anomali atau kejanggalan terhadap data sirekap proses penghitungan Pilgub oleh KPU Jatim.
Imam Buchori Ketua Tim Pemenangan Risma-Gus Hans membeberkan kejanggalan tersebut diantaranya, tingkat partisipasi pemilih di beberapa TPS mencapai 100 persen.
“Contohnya di Madiun, Kota Kediri, Situbondo. Dan yang paling banyak didaerah Madura. Hal ini aneh. Sebab banyak masyarakat Madura yang merantau. Kalau TPS itu tingkat partisipasi pemilihnya 100 persen, sesuatu hal yang aneh,” jelasnya pada Senin (02/11/2024).
Lebih lanjut Ra Imam menjelaskan anomali tersebut terjadi di 2.801 TPS. Yang mana, selisih pemilih paslon 02 mencapai 637.176 suara dibandingkan pemilih paslon 03. Khusus di Sampang, terdapat 9 desa dengan jumlah pemilih di semua TPS-nya mencapai 100 persen DPT.
Tim Pemenangan Risma-Gus Hans juga mencermati jumlah pemilih paslon 03 di TPS mencapai di kurang dari 30 suara dan bahkan mencapai 0 suara di 3.637 TPS. Yang mana, selisih pemilih paslon 02 mencapai 770.917 suara dibandingkan pemilih paslon 03, dengan persentase terbesarnya ada di Sumenep, Sampang dan Pamekasan.
“Sebuah keanehan yang mengindikasikan ada yang tidak beres. Berarti kan saksinya saja tidak memilih dan yang di ranting, partai pengusungnya juga tidak memilih. Kan ini aneh,” imbuhnya.
Kemudian yang patut juga dicermati yaitu, jumlah pemilih Pilgub lebih besar dari jumlah pemilih Pilbup dan Pilwali yang selisihnya melebihi DPTB di 194 TPS. Di mana, selisih pemilih paslon 02 mencapai 18.745 suara dibandingkan Pemilih Paslon 03, dengan presentase terbesar ada di Kota Madiun, Situbondo dan Kota Kediri.
“Ini sebuah indikasi yang menurut kita perlu dicermati. Oleh karena itu, kami akan terus mempelajari tahapan demi tahapan dari proses Pilkada ini,” ujar Ra Imam.
Sementara itu Abdul Aziz Juru Bicara Tim Pemenangan Risma-Gus Hans menambahkan, bahwa temuan anomali dalam Sirekap KPU tersebut perlu dijelaskan kepada publik sebagai pertanggungjawaban moral.
“Apakah pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim ini betul-betul berintegritas? perlu kita koreksi secara fundamental, secara mendasar. Karena temuan kami ini tidak main-main, dan ini baru sebagian yang kami catat dan kami seriusi untuk diberi garis bawah tebal,” ujarnya.
Pihaknya ingin, Pilgub Jatim menjadi pemilihan yang berintegritas dan tidak ada anomali, sehingga melahirkan pemimpin-pemimpin yang menjadi harapan publik, yakni yang berkemajuan dan mampu menyejahterakan masyarakat.
“Kita tidak ingin ada Pilgub seperti yang kami temukan di dalam data ini. KPU dan Bawaslu tentu harus bertanggung jawab untuk menjelaskan bagaimana sesungguhnya hal ini bisa terjadi dan ini tampak di dalam sirekap KPU,” pungkas Abdul Aziz.(Lam)

