Mahmudi menegaskan, “Jika kita dapat meningkatkan produktivitas dari 5 ton per hektar menjadi 8 ton per hektar, kita sudah berada di jalur yang tepat untuk mencapai swasembada gula konsumsi.” Ia menjelaskan, peningkatan produktivitas ini dapat membawa penghasilan petani dari Rp13,8 juta per hektar per tahun menjadi Rp49 juta per hektar per tahun.
Untuk mencapai peningkatan produktivitas tersebut, SGN menerapkan beberapa strategi, antara lain program bongkar ratoon tebu rakyat, penataan varietas untuk meningkatkan rendemen, pengorganisasian petani, serta fasilitasi akses pendanaan. “Dukungan dari semua pihak, termasuk akademisi, sangat diperlukan untuk mewujudkan ketahanan pangan berbasis pertanian,” tambah Mahmudi.
Mahmudi juga mengapresiasi Fakultas Pertanian UGM yang telah memberikan dukungan luar biasa. “Kita telah melakukan penelitian bersama terkait industri gula dan mendirikan Sugar Cane Learning Center, yang bertujuan mencetak generasi Gen-Z yang peduli terhadap industri gula,” ungkapnya. Ia berharap kementerian, lembaga, swasta, dan semua pihak dapat bersinergi untuk membawa industri gula menuju swasembada.
Sebelumnya, SGN telah bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Ekonomi (Kemenko) untuk memfasilitasi modal usaha petani melalui program “KUR (Kredit Usaha Rakyat) Khusus Cluster”, sebagai solusi atas batasan plafon pinjaman. Selain itu, SGN meluncurkan aplikasi ETERA, sebuah ekosistem digital yang menawarkan integrasi dan kemudahan dalam proses bisnis, mendukung pencapaian Swasembada Gula Nasional.
Di sisi lain, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., Rektor Universitas Gadjah Mada, menekankan pentingnya sektor pertanian dalam menjaga ketahanan pangan dan mendukung perekonomian nasional. “Sektor pertanian harus dapat mensejahterakan masyarakat dan berperan sebagai motor penggerak perekonomian,” ujarnya.
Namun, Ova Emilia juga mengingatkan tantangan yang dihadapi sektor pertanian, seperti risiko gagal panen, bencana alam, dan alih fungsi lahan. “Kita perlu kerja kreatif dan inovatif dari semua pihak, terutama institusi pendidikan tinggi, untuk meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan,” tegasnya.
Dengan kolaborasi antara SGN, akademisi, dan semua pihak terkait, diharapkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional dapat terwujud. (dan)

