Indonesia masih menjadi negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengatakan, setiap tahun satu juta orang tertular dan 136 ribu di antaranya meninggal dunia. Artinya tiap lima menit ada satu orang meninggal akibat TBC.
dr. Wiwik Kurnia Ilahi SpP, dokter spesialis paru sekaligus inisiator Poli TB MDR RSUD Ibnu Sina Gresik mengatakan salah satu penyebab tingginya angka TBC karena belum optimalnya pelaporan dan pencatatan pasien. Sedangkan proses penyembuhan TBC pun tidak mudah. “Tahun kemarin yang ternotifikasi baru 60 persen,” tuturnya, Kamis (29/8/2024).
Sebagai respons terhadap kondisi ini, pemerintah telah menargetkan mengeliminasi TBC dari Indonesia pada tahun 2030. Hal ini menjadi landasan bagi semua pihak untuk bergerak bersama menjadi lebih peka, peduli, dan ikut serta memerangi TBC di Indonesia.
Kampanye melalui gelaran Focus Group Discussion ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya tuberkulosis (TBC) dan mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam upaya memberantas penyakit ini.
Diskusi publik di Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya pada Kamis, 29 Agustus 2024 ini dihadiri 150 undangan. Terdiri dari para pembuat kebijakan, pakar TBC, peneliti, akademisi, aktivis TBC, komunitas penyintas, perusahaan bisnis, dan media massa.
dr. Nancy D. Anggraeni, M.Epid. Asisten Deputi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI dijadwalkan hadir sebagai pembicara utama, mewakili Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI.
Sementara itu Eddy Prastyo Ketua Panitia Wawasan Series “Merdeka dari TBC” menambahkan, audiens akan membahas berbagai aspek terkait TBC, mulai dari profil penyakit, upaya pencegahan, hingga dukungan bagi para penderita.
“Kami ingin menyatukan berbagai suara untuk mencari solusi bersama dalam mengatasi masalah TBC. Dengan melibatkan berbagai pihak, kami berharap dapat merumuskan langkah-langkah konkret untuk menurunkan angka penderita TBC di Surabaya dan sekitarnya,” tegasnya.
Salah satu pembahasan menarik dalam forum ini adalah pengalaman Dinas Kesehatan Gresik. Kabupaten Gresik, yang memiliki banyak kawasan industri dan karakteristik unik dalam penanganan TBC.
Peserta forum akan dapat belajar dari pengalaman Gresik dalam mengelola kasus TBC di tengah lingkungan industri yang padat. Selain itu, para penyintas TBC juga akan berbagi kisah dan pengalaman mereka. Kisah-kisah inspiratif ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi penderita TBC lainnya dan masyarakat umum untuk lebih peduli terhadap penyakit ini.
Berikut isi komitmen bersama yang akan ditandatangani semua peserta Wawasan Series “Merdeka dari TBC”:
Kami yang terlibat dalam diskusi “Wawasan Series” ini memahami dan berkomitmen:
1. Bahwa penyakit TBC adalah kenyataan medis dan sosial yang perlu mendapatkan perhatian serius bersama seluruh pemangku kepentingan.
2. Bahwa pengidap dan penyintas TBC adalah bagian masyarakat yang perlu mendapatkan pendampingan dan perlakuan setara dalam lingkungan sosial dan berkehidupan dalam negara.
3. Dengan segenap daya upaya dan kewenangan yang dimiliki, secara bersama-sama mengurangi tingkat penyebaran, terus mendampingi para pengidap juga penyintas, dan menggelorakan edukasi pada publik agar terhindar dari TBC. (dan)

