Granostic: 20 ribu institusi kesehatan di Indonesia bergerak menuju digitalisasi layanan

Surabaya, MercuryFM – Berdasarkan data di tahun 2022, terdapat 3.000 rumah sakit, 7.500 klinik, 7.500 praktik bersama dan 1.400 laboratorium klinik yang tersebar di Indonesia.

Semuanya mau tidak mau harus ikut di dalam perubahan jika ingin survive.
Keadaan ini membawa seluruh provider harus berbenah menyesuaikan perubahan tuntutan zaman.

“Salah satunya di Peraturan Menteri Kesehatan 24 mensyaratkan semuanya harus melaksanakan elektronik managering club di tahun depan. Kita bayangkan betapa banyak jumlahnya sampai sekitar 20 ribu institusi ini harus berbenah menuju digitalisasi kesehatan,” ujar Adj. Prof. Hananiel Prakasya Wijaya, MD., selalu Presiden Direktur Klinik Granostic ketika ditemui seusai acara Soft Opening Gedung Baru, Fasilitas Baru dan peluncuran Aplikasi MyGranostic, Jumat (11/11/2022).

Tantangan di dunia kesehatan ke depan tak hanya soal digitalisasi. Prof Hananiel memaparkan, angka inflasi kesehatan di Indonesia saat ini tiga kali lipat lebih tinggi daripada inflasi umum. Di mana inflasi umum sebesar 4 persen, sedangkan inflasi kesehatan ada di angka 12 persen setiap tahunnya.

“Ini menjadi concern utama bahwa jangan-jangan teknologinya ada, tapi kita tidak mampu untuk berobat karena inflasi yang lebih tinggi ini. Dan itu sudah terjadi di beberapa negara maju,” ungkap Prof Hananiel.

Prof Hananiel berharap digitalisasi kesehatan tidak disalahartikan hanya dengan membeli komputer atau memiliki IoS untuk mendaftar secara mandiri.

“Ini menjadi masalah besar yang harus kita pikirkan juga. Transformasi digitalisasi kesehatan, saya kira ini juga menjadi buah bibir saat ini, di mana hampir semua rumah sakit sedang bergeser melakukan digitalisasi,” katanya.

Karena tuntutan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan akses layanan kesehatan yang mudah dijangkau kapan saja, Granostic Center membuka layanan kesehatan selama 24 jam nonstop.

Saat ini Granostic memiliki visi, cara dan strategi baru untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Perubahan yang dilakukan adalah fokus pada pasien dengan fokus menjadi mitra pasien dalam kebutuhan laboratorium secara mudah.

“Kita melayani pasien langsung, bukan lewat rumah sakit ataupun dokter,” kata

Prof. Hananiel Prakasya Wijaya menjelaskan konsen connective care antara rumah dengan klinik ini, disebutnya akan menjadi tren ke depan.

“Dan saat ini semua tidak berfokus lagi di rumah sakit. Tetapi bagaimana kita sebagai fasyankes datang ke rumah pasien. Saya kira ini menjadi tren dan bahwa setiap kita memiliki pola terapi berbeda sesuai dengan profil genetik yang ada,” ungkapnya.

Konsep home care tersebut sudah diluncurkan sejak awal hingga saat ini sudah mendominasi kinerja dari Granostic.

“Jadi sebagian besar pangsa dari Granostic adalah home care, selain kita 24 jam,” ucap Prof Hananiel.

Perpaduan dari knowledge, skills dan peralatan terkini, serta terintegrasi digital menjadi kunci bagi Granostic.

“Kita gabungkan berbagai kelebihan itu,” ujarnya.

Secara layanan, Granostic merambah sistem digital mulai dari information system, billing, Apps, website, e-payment, lab information system dan sebagainya. Semua terpandu dengan berbasis Cloud yang menjadi album yang dapat diakses dan dapat digunakan pasien sewaktu-waktu.

Aplikasi MyGranostic merupakan layanan aplikasi digital yang dapat digunakan untuk memesan pemeriksaan secara online, mengakses jadwal praktik dokter, konsultasi hasil pemeriksaan, serta akses antrean dari mana pun dan kapan pun. (dan)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist