Surabaya, MercuryFM — Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 5,72% pada semester pertama dinilai menjadi bukti ketahanan dan stabilitas ekonomi daerah di bawah sinergi kepemimpinan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama seluruh stakeholder daerah.
“Ini semua bisa terjadi karena solidnya sinergitas antara Pemprov Jatim, sektor industri perbankan, dan Bank Indonesia (BI). Sehingga bisa menjadi pilar utama penjaga roda perekonomian Jawa Timur.,” ujar Ketua Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, AA. Ahmad Nawardi kepada wartawan usai acara Gala Dinner dalam rangka HUT ke-22 DPD RI di Kantor DPD RI Perwakilan Jatim, Jalan Jemur Andayani, Surabaya, Minggu (24/10/26).
Menurut Nawardi, meski pertumbuhan ekonomi semester I sedikit melambat dari triwulan pertama yang sempat menyentuh 5,82%, indikator makroekonomi Jawa Timur dinilai tetap berada di jalur yang sangat baik. Tingkat inflasi terjaga konsisten di angka 3,33% secara tahunan (year-on-year) dan 0,24% secara bulanan (month-to-month).
Nawardi menjelaskan bahwa pergerakan inflasi terkendali di Jawa Timur justru menunjukkan indikator positif dari tingginya aktivitas transaksi masyarakat.
”Inflasi yang terjadi di Jawa Timur ini bukan disebabkan karena penurunan pasokan produksi, melainkan kuatnya peredaran uang di masyarakat. Tingginya aktivitas belanja publik menciptakan dinamika pasar yang menandakan perputaran ekonomi daerah berjalan sangat aktif,” ujar Nawardi.
Dijelaskan Senator asal Jatim ini, kinerja positif perekonomian Jawa Timur di bawah kepemimpinan Khofifah juga tecermin dari kesehatan sektor perbankan. Berdasarkan data perbankan daerah, jumlah dana pihak ketiga yang tersimpan mencapai sekitar Rp880 triliun, sementara penyaluran kredit masyarakat berada di angka Rp770 triliun.
Menurut Senator asal Jawa Timur tersebut, rasio simpanan dan pinjaman ini menunjukkan tingkat likuiditas daerah yang sangat seimbang dan berada dalam kategori aman.
”Likuiditas kita di Jawa Timur sangat tinggi dan sehat. Penyaluran kredit yang menyentuh Rp770 triliun membuktikan sektor usaha di Jawa Timur terus bergerak. Inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi Jatim relatif lebih stabil dibanding daerah-daerah lain,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nawardi menegaskan bahwa keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi daerah tidak terlepas dari hadirnya kontrol serta intervensi aktif pemerintah, baik di tingkat daerah maupun nasional, dalam menjaga keseimbangan pasar.
Ia mengingatkan pentingnya negara dan Pemprov Jatim untuk tidak menyerahkan mekanisme pasar sepenuhnya kepada penggerak swasta bebas atau paham neoliberalisme.
“Tanpa kontrol pemerintah, orientasi pasar hanya akan menguntungkan pemilik modal dan berisiko membebankan masyarakat,” ucap Senator asli Madura ini.
Modal fondasi ekonomi Jawa Timur yang solid saat ini, lanjut Nawardi, harus terus dikawal dan dijaga. Kestabilan likuiditas serta intervensi pasar yang terkontrol ini menjadi pijakan utama Jawa Timur dalam menopang kesiapan Indonesia menuju visi Indonesia Emas. (ari)
