Surabaya, MercuryFM – Di tengah tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jatim, Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) DPRD Jatim mendorong pengembangan program Millennial Job Center (MJC), untuk memperkuat daya saing pedagang pasar tradisional sekaligus membuka peluang kerja berbayar bagi generasi muda
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, Indriani Yulia Mariska, mengatakan, pengembangan MJC perlu diarahkan agar tidak berhenti pada pelatihan keterampilan. Program ini harus mampu mempertemukan kompetensi generasi muda dengan kebutuhan nyata pelaku usaha, termasuk pedagang pasar tradisional yang menghadapi persaingan perdagangan daring.
“MJC harus mampu membuka peluang kerja yang nyata bagi generasi muda. Kita punya banyak talenta dengan keterampilan di bidang desain, fotografi, dan pemasaran digital. Di sisi lain, pedagang pasar membutuhkan dukungan untuk mengembangkan usaha. Keduanya bisa dipertemukan melalui proyek yang jelas dan berbayar,” ujar Indriani, Rabu (14/10).
Berdasarkan Direktori Pasar Rakyat 2024 Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Timur memiliki 2.574 pasar rakyat. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi kerakyatan yang perlu diperkuat, terutama dalam menghadapi perubahan pola belanja masyarakat.
Namun, banyak pedagang masih menghadapi tantangan dalam memperluas pemasaran, membuat katalog produk, mengelola keuangan, hingga memanfaatkan teknologi digital. Ini juga peluang kerja bagi generasi muda yang memiliki kompetensi sesuai.
Kata Indriani, penguatan pasar rakyat tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik dan revitalisasi fasilitas. Peningkatan kapasitas pedagang serta pemanfaatan keterampilan generasi muda, juga harus menjadi bagian dari strategi pengembangan pasar tradisional.
“Pedagang pasar jangan dibiarkan berjuang sendiri menghadapi perubahan zaman. Mereka membutuhkan pendampingan agar produknya semakin dikenal dan jangkauan pasarnya lebih luas. Sementara itu, anak-anak muda perlu diberi ruang untuk menerapkan keahliannya sekaligus memperoleh penghasilan,” tegasnya.
Melalui skema MJC Pasar Rakyat, lanjutnya, talenta muda dapat dilibatkan dalam proyek pembuatan katalog digital, pengelolaan WhatsApp Business, produksi foto dan video produk, penyusunan materi promosi, hingga pencatatan keuangan sederhana.
“Pendampingan tersebut diharapkan tidak hanya membantu pedagang meningkatkan daya saing, tetapi juga memberikan pengalaman profesional, portofolio, dan pendapatan bagi generasi muda,” ucapnya.
“Ini juga bisa menjadi salah satu penyelesaian, terhadap jumlah PHK di Jatim yabgcsanpai saat ini mencapai 6.154 pekerja. Mereka bisa dilibatkan di sini,” lanjutnya.
Karenanya anggota Komisi E DPRD Jatim ini
mendorong Pemprov Jatim mengembangkan proyek percontohan MJC Pasar Rakyat dengan melibatkan Disnakertrans, Disperindag, Dinas Koperasi dan UKM, pengelola pasar, serta paguyuban pedagang.
Sebagai usulan awal, lanjutnya, proyek percontohan dapat berlangsung selama tiga bulan dengan melibatkan 100 talenta muda untuk mendampingi 200 pedagang melalui 100 paket proyek berbayar.
Selain pendampingan digital, program dapat diarahkan untuk memperluas akses pemasaran produk pedagang melalui kerja sama dengan koperasi, hotel, restoran, pusat oleh-oleh, dan jaringan pemasaran lainnya.
“Yang ingin kita dorong adalah program yang manfaatnya dirasakan kedua belah pihak. Pedagang memperoleh dukungan untuk mengembangkan usaha, sedangkan generasi muda mendapatkan kesempatan kerja dan penghasilan. Jadi, dampaknya harus bisa diukur, bukan sekadar dihitung dari jumlah peserta pelatihan,” jelas Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Madura ini.
“Kita akan mendorong evaluasi terhadap alokasi anggaran dan capaian MJC 2026, khususnya jumlah peserta yang benar-benar memperoleh proyek berbayar serta keberlanjutan penghasilan setelah program selesai,” lanjutnya.
Dengan evaluasi yang terukur, MJC Pasar Rakyat diharapkan menjadi salah satu upaya memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus membuka peluang kerja bagi generasi muda di Jawa Timur. (ari)

