Cirebon, MercuryFM – Sebanyak 680 pengasuh pesantren rintisan asal Jawa Tengah digembleng dalam Workshop Pesantren Rintisan Angkatan ke-4 di Hotel Aston Cirebon, Jawa Barat, Minggu (20/9/2026). Kegiatan garapan Imam Jazuli Foundation yang berlangsung hingga sore hari ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Anwar Iskandar.
Lokakarya ini merupakan bagian dari misi besar menjangkau 10.000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia, di mana lebih dari 2.000 peserta telah tercatat lulus hingga angkatan keempat.
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli (Kiai Imjaz), menegaskan pentingnya keberanian kiai dalam mengambil keputusan strategis yang cepat dan adaptif agar tidak tergilas zaman.
”Bayangkan, korporasi besar saja bisa tumbang oleh perubahan. Bukan mereka tidak ahli, tetapi terlambat atau menolak untuk merespons perubahan dengan cepat dan tepat,” ujar Kiai Imjaz, Selasa (22/09/26).
Kiai Imjaz menyoroti fenomena bergesernya tren pesantren. Saat ini, banyak pesantren rintisan justru tumbuh pesat hingga memiliki ribuan santri dalam waktu sepuluh tahun karena mampu beradaptasi.
“Sebaliknya, sejumlah pesantren warisan yang lambat merespons perubahan justru mengalami penurunan jumlah pendaftar secara drastis,” tegasnya.
Peluang pengembangan pesantren di Indonesia, lanjutnya, masih terbuka sangat lebar. Dari sekitar 54 juta penduduk usia sekolah, anak yang mengecap pendidikan di pesantren belum mencapai 10 persen atau baru sekitar 2,7 juta jiwa.
Oleh karena itu, seluruh pimpinan pesantren diwajibkan hadir langsung tanpa diwakilkan agar proses transformasi kelembagaan, SDM, hingga branding pesantren dapat dieksekusi secara otoritatif.
Sementara itu keynote speaker, Ketua Umum MUI Pusat KH Anwar Iskandar mengingatkan para pengasuh untuk mencetak santri sebagai calon pemimpin (khalifah) masa depan. Ia menekankan pentingnya menghapus pandangan sempit yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum.
”Semua ilmu milik Allah SWT dan akan menghasilkan manfaat bagi yang mempelajarinya. Dikotomi ilmu yang melahirkan pemisahan sempit antara ilmu agama dan ilmu umum itu warisan kaum penjajah,” tegas Kiai Anwar.
Dirinya mendorong pesantren untuk membekali para santri dengan beragam disiplin ilmu terkini, mulai dari hukum, teknik, hingga pertanian, disertai niat yang ikhlas.
Sedangkan tokoh Nahdlatul Ulama, Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur), menyempurnakan pembekalan dengan menyoroti pentingnya tirakat spiritual dalam membangun lembaga pendidikan Islam. Menurutnya, manajemen strategi yang apik (jalur bumi) harus disandingkan dengan spiritualitas yang kuat (jalur langit).
Kegiatan workshop tersebut resmi ditutup dengan proses pengijazahan tirakat Dalailul Khairat, amalan spiritual yang selama ini menjadi salah satu pilar pendidikan karakter di Pesantren Bina Insan Mulia. (ari)

