Jombang, MercuryFM — Dinamika internal dan peran kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi fokus utama dalam Halaqah Pemikiran Pesantren bertajuk Mendalami dan Memaknai Kembali Qonun Asasi NU yang digelar di Pondok Pesantren Al-Utsmany, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/08/26) malam.
Forum yang berlangsung hangat tersebut menghadirkan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar M. Sarmuji, bersama Pengasuh Ponpes Al-Utsmany KH Fathullah Malik dan KH Ubaidillah. Diskusi kultural ini hadir di tengah inguk-binguk organisasi untuk mendalami kembali makna hakiki Qanun Asasi karya pendiri NU, Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari.
Dalam pemaparannya, M. Sarmuji menegaskan pentingnya seluruh warga Nahdliyin, baik di ranah struktural maupun kultural, untuk menggali kembali raison d’être atau alasan mendasar berdirinya NU. Ia menyitir ayat pertama yang ditulis Mbah Hasyim dalam mukadimah kitab tersebut, yakni QS Al-Ahzab ayat 45-46.
”Hadratussyaikh menghendaki NU hadir seperti seruan Allah kepada Nabi: menjadi mubashshiran wa nadhiran, pembawa kabar gembira, pengingat, penyeru di jalan Allah, sekaligus pelita kehidupan. NU harus menjadi kabar gembira bagi masyarakat dan bangsa, bukan justru memicu perpecahan,” ujar Sarmuji, yang hadir didampingi pengurus DPD Golkar Jatim serta anggota DPRD Jatim seperti Hadi Setiawan, Jairi Irawan, dan Sumardi.
Sarmuji turut menyoroti dinamika internal NU belakangan ini, termasuk perebutan konsesi tambang hingga perselisihan antar-elit. Menurutnya, konflik semacam itu tidak akan terjadi jika nilai-nilai Qanun Asasi dihayati dengan sungguh-sungguh.
”Gak usah gegeran (bertengkar), tapi ger-geran (bercanda ria). Tidak ada yang perlu diperebutkan, rida Allah itu sangat luas. Aneh jika organisasi lain mendapat kelola tambang bisa memperlebar manfaat, tapi di NU justru jadi alat bertengkar. Ini tandanya kita perlu belajar keikhlasan lagi,” seloroh Sarmuji yang disambut tawa peserta.
Senada dengan hal tersebut, Pengasuh Ponpes Al-Utsmany KH Fathullah Malik menekankan bahwa Qanun Asasi telah menetapkan NU sebagai Darussalam (negeri yang damai) dan perekat keberagaman bangsa. Ia mengingatkan agar para pengurus NU senantiasa mencerminkan laku dan akhlak kiai pesantren.
”Berkhidmat di NU itu ibarat bersedekah; tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Tidak perlu berharap imbalan seketika, semata-mata mencari rida Allah,” tutur KH Fathullah.
Selain dinamika internal, halaqah interaktif ini juga membedah tantangan era modern, khususnya pentingnya menjaga tradisi asketisme dan sanad keilmuan pesantren di tengah arus digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI).
Forum menyimpulkan bahwa keunggulan pesantren terletak pada hubungan spiritual antara santri dan Kiai, dimensi yang tidak dapat digantikan oleh teknologi maupun sekadar transfer ilmu pengetahuan tanpa kedalaman jiwa.
Halaqah ditutup dengan pesan mendalam agar pengurus struktural NU senantiasa mendengar aspirasi kultural dari pesantren, sehingga NU tetap konsisten menjadi penerang dan pembawa kedamaian bagi umat dan bangsa. (ari)
