Surabaya, MercuryFM – Belakangan ini, ruang publik kembali dihangatkan oleh berita gembira. Laba Badsn Usaha Milik Negara (BUMN) melompat hingga ratusan persen di bawah naungan entitas pengelola investasi yang baru, Danantara.
Dari angka-angka yang berderet di papan pengumuman, industri timah tampak benderang, bahkan Krakatau Steel yang bertahun-tahun merintih tertindih utang dilaporkan mulai menghirup udara segar. Sebuah narasi yang disusun begitu apik, seolah-olah sebuah keajaiban ekonomi baru saja ditiupkan dari Jakarta.
Namun, bagi mereka yang biasa membedah anatomi neraca dengan kacamata dingin, riak kegembiraan ini justru memantik tanya. Apakah kita sedang menyaksikan kebangkitan industri yang hakiki, atau sekadar menonton pertunjukan sulap “financial engineering”?
Membuat perusahaan yang tadinya megap-megap mendadak terlihat “sehat dan bugar” dalam laporan keuangan bukanlah sihir yang rumit. Dalam dunia akuntansi modern, ada banyak pintu belakang. Konversi utang menjadi saham (debt-to-equity swap), restrukturisasi tenor utang untuk menunda pembayaran bunga, revaluasi aset ke nilai wajar, hingga strategi ‘kitchen sinking’, di mana seluruh kerugian dibukukan sekaligus di masa lalu agar neraca hari ini terlihat bersih tanpa noda. Semuanya adalah instrumen legitim.
Persoalannya, teknik-teknik ini hanya merapikan tampilan luar. Ia mengubah angka di atas kertas, tetapi tidak otomatis mengubah daya saing produk di pasar. Ambil contoh Krakatau Steel. Menundukkan beban bunga melalui restrukturisasi memang memberi napas buatan.
Namun, selama efisiensi pabrik belum mampu menandingi gempuran baja impor berbiaya murah, dan selama struktur biaya produksi belum tersentuh efisiensi radikal, ancaman gagal bayar hanyalah persoalan waktu. Begitu masa tenggang (grace period) utang berakhir, tagihan riil akan kembali mengetuk pintu.
Begitu pula dengan PT Timah. Lonjakan laba yang melambung tinggi kerap kali bukan murni buah dari revolusi manajemen internal, melainkan bonus dari tingginya harga komoditas global (windfall profit). Ketika siklus pasar berbalik arah dan harga komoditas jatuh, angka laba spektakuler itu bisa menguap begitu saja.
Tanpa Arus Kas Operasional (Cash Flow from Operations) yang benar-benar solid dan mandiri, kejayaan di atas kertas ini berisiko menjadi laba semu yang rapuh.
Dilema ini menjadi semakin krusial ketika kita menyandingkannya dengan peta jalan (roadmap) hilirisasi nasional.
Di sinilah kehadiran Danantara memegang posisi persimpangan yang amat krusial. Di satu sisi, hilirisasi industri berat, mulai dari smelter kelas tinggi, pemrosesan bahan kimia tambang, hingga industri manufaktur berbasis teknologi. Memang membutuhkan modal raksasa (patient capital) dan daya tahan risiko yang tinggi. Swasta domestik sering kali tidak sanggup berjalan sendiri.
Dalam skenario ideal, Danantara bisa menjadi ‘katalisator’: bertindak sebagai penyedia modal jangkar (anchor capital), membuka jalan bagi proyek berisiko tinggi, lalu membagikan risikonya (de-risking) kepada pelaku usaha nasional.
Namun, di sisi lain, bayang-bayang ‘etatisme’ mengintai dengan sangat nyata.
Jika Danantara menjelma menjadi instrumen kekuasaan yang ingin memonopoli seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir, maka yang terjadi bukanlah percepatan hilirisasi, melainkan pembunuhan terhadap ekosistem bisnis itu sendiri.
Ketika BUMN diberi keistimewaan berupa akses lahan, fasilitas pajak khusus, proteksi regulasi, dan modal murah dari negara, ruang gerak sektor swasta dan UMKM lokal akan semakin terhimpit (crowding-out effect).
Tanpa adanya persaingan yang sehat (fair competition), industri BUMN tidak akan pernah terpacu untuk menjadi efisien secara riil. Yang tercipta kemudian hanyalah ekonomi berbiaya tinggi (high-cost economy) yang dikelola secara birokratis.
BUMN akan menjadi gajah yang lambat, rentan disusupi beban politik, dan modal yang dihimpun Danantara justru habis hanya untuk membiayai anak-anak usaha yang sakit alih-alih mendanai riset dan teknologi masa depan.
Negara ini tidak kekurangan narasi manis, tetapi kita sangat haus akan ketahanan ekonomi yang berakar pada realitas. Membangun kekuatan BUMN dan mengejar cita-cita hilirisasi tidak bisa diselesaikan dengan sekadar merapikan ‘preset’ laporan keuangan tahunan.
Danantara harus memilih jalannya dengan bijak. Apakah ia akan menjadi pembuka jalan (pioneer) yang mendorong kemandirian industri dan melapangkan jalan bagi partisipasi swasta, atau justru menjadi ‘benteng etatisme’ yang mematikan kompetisi demi menjaga ilusi performa jangka pendek?
Keberhasilan sejati sebuah BUMN tidak diukur dari seberapa dramatis angka laba bersihnya meloncat dalam semalam, melainkan dari sejauh mana produknya mampu bersaing secara mandiri di pasar global tanpa terus-menerus disuapi fasilitas negara.
Jika kita terus bersenang-senang dalam buaian ‘paper profit’, kita hanya sedang menunda krisis yang jauh lebih besar di masa depan. Sudah saatnya kita kembali pada kejujuran fundamental, efisiensi operasional yang riil, arus kas yang sehat, dan iklim usaha yang adil bagi semua. (ari)

