Warga Serbu Pasar Murah Pemkot Surabaya, Rela Antri Panjang Demi Beras dan Minyak Goreng Harga Miring

Surabaya, MercuryFM – Pasar Murah Serentak dan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Pemerintah Kota Surabaya di 31 kecamatan pada Rabu (12/8/2026) mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Ribuan kilogram beras SPHP, Minyakita, gula, telur, hingga aneka kebutuhan pokok lainnya menjadi buruan warga karena dijual dengan harga lebih murah dibandingkan pasaran.

Program yang menjadi salah satu strategi pengendalian inflasi daerah ini menyediakan total 17.000 kilogram beras SPHP, 8.160 liter Minyakita, dan 2.400 kilogram gula yang didistribusikan secara serentak di seluruh kecamatan.

Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Kota Surabaya, Vykka Anggradevi Kusuma, mengatakan tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan pasar murah masih menjadi program yang sangat dibutuhkan warga, terutama di tengah kebutuhan pokok yang terus bergerak mengikuti kondisi pasar.

“Antusiasme masyarakat dalam kegiatan ini cukup tinggi karena komoditas yang dijual memang harganya di bawah harga pasar,” kata Vykka.

Selain bahan pokok, pasar murah juga melibatkan kelompok tani dan pelaku UMKM lokal. Salah satu komoditas yang menarik perhatian adalah ikan lele yang dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram, lebih murah dibanding harga pasar yang mencapai Rp26 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram.

Menurut Vykka, manfaat program ini tidak hanya dirasakan masyarakat umum, tetapi juga pelaku usaha kecil seperti pedagang makanan yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan bahan baku dengan harga lebih terjangkau.

“Bukan hanya warga yang membeli. Ada juga penjual penyetan yang ikut membeli, sehingga kegiatan seperti ini cukup membantu,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan kegiatan kali ini merupakan kolaborasi antara GPM dan pasar murah yang digelar Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag).

Selain beras, minyak, dan gula, sejumlah komoditas strategis juga tersedia, seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, serta telur ayam ras dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pasar.

“Minyak menjadi salah satu komoditas yang paling banyak dicari karena selisih harganya dengan harga di pasaran cukup jauh. Untuk telur, harga yang ditawarkan sekitar Rp22 ribu per kilogram, sementara harga di pasaran berada di kisaran Rp26 ribu per kilogram,” jelas Nanik.

Sementara itu, Kepala Dinkopumdag Surabaya, Mia Santi Dewi, menegaskan pasar murah akan terus digelar rutin setiap bulan hingga Desember 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.

Di sisi lain, Kepala BPS Kota Surabaya, Arrief Chandra Setiawan, memastikan kondisi stok pangan Surabaya masih aman. Menurutnya, keberadaan pasar murah turut membantu menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan masyarakat.

Pada Juli 2026, Surabaya bahkan mencatat deflasi bulanan sebesar 0,22 persen, lebih dalam dibandingkan angka nasional sebesar 0,14 persen. Sementara inflasi tahun berjalan hingga Juli 2026 tercatat 1,95 persen, masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional.

“Masih aman. Artinya, aman sampai beberapa bulan ke depan untuk stok pangan kita,” ujar Arrief.

Salah seorang warga Penjaringansari, Retno, mengaku sengaja datang untuk membeli berbagai kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, ayam, dan sosis karena harganya lebih terjangkau.

“Terima kasih Bapak Wali Eri Cahyadi karena telah memberikan peluang bagi kami untuk mendapatkan kebutuhan dengan harga lebih murah. Semoga kegiatan serupa dapat terus digelar secara rutin karena membantu masyarakat,” tuturnya.

Program pasar murah serentak ini menjadi salah satu langkah konkret Pemkot Surabaya dalam menjaga stabilitas harga pangan, memperkuat daya beli masyarakat, sekaligus mengendalikan inflasi di Kota Pahlawan. (lam)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist