Surabaya, MercuryFM – Pemerintah Kota Surabaya memperkuat kewaspadaan terhadap ancaman penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan instansi pemerintah, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan hingga media massa.
Dinas Kesehatan Kota Surabaya bersama Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), dan Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE) menggelar Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis di Puskesmas Medokan Ayu, Surabaya, pada 21-22 Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi penting di tengah masih ditemukannya kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) dan suspek leptospirosis di Kota Pahlawan. Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR), hingga Minggu ke-27 tahun 2026 tercatat 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus GHPR. Sementara pada tahun 2025 terdapat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR.
Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Surabaya, Moch Ashadi M, mengatakan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum terjadi kedaruratan kesehatan.
“Dinas Kesehatan Kota Surabaya menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan dan surveilans, tetapi juga komunikasi risiko yang cepat, tepat, transparan, dan dapat dipercaya,” ujarnya.
Ashadi menjelaskan, Surabaya memang tidak mencatat kasus suspek flu burung pada manusia maupun antraks dalam lima tahun terakhir. Meski demikian, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan karena risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia masih ada.
Di sisi lain, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan ancaman zoonosis. Rabies dapat menular melalui gigitan atau cakaran hewan seperti anjing, kucing, monyet hingga kelelawar. Sementara leptospirosis berpotensi menyebar melalui genangan air yang terkontaminasi urine tikus, terutama saat musim hujan.
Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet DKPP Kota Surabaya, drh Wafiroh, mengimbau masyarakat untuk rutin memvaksin hewan peliharaan serta menghindari kontak dengan unggas yang sakit atau mati mendadak.
Selain itu, masyarakat diminta tidak menyembelih atau mengonsumsi ternak yang sakit maupun mati mendadak karena berisiko terkait penyakit antraks.
Program Manager Portkesmas, dr Basra Ahmad Amru, menegaskan bahwa penguatan koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama menghadapi ancaman wabah.
“Jangan sampai ketika wabah penyakit muncul, kita tidak siap,” tegasnya.
Melalui lokakarya ini, Pemkot Surabaya berharap kemampuan deteksi dini, komunikasi risiko, dan edukasi masyarakat semakin kuat sehingga potensi wabah zoonosis dapat dicegah sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih besar. (lam)

