Surabaya, MercuryFM – Pemerintah Provinsi Jawa Timur didesak segera memperkuat program ketahanan keluarga. Hal ini menyusul temuan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim yang menyebut pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) didominasi anak-anak usia sekolah.
Menurut Anggota Komisi E DPRD Jatim Puguh Wiji Pamungkas, fenomena tersebut tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan kriminalitas. Kondisi tersebut menjadi alarm serius bahwa ada persoalan dalam pola pengasuhan keluarga dan pendidikan karakter yang harus segera dibenahi.
“Kalau pelaku curanmor didominasi anak usia sekolah, berarti ada sesuatu yang harus dievaluasi bersama. Ini menjadi alarm bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk segera memperkuat ketahanan keluarga dan pendidikan karakter,” ujar Puguh, Jumat (03/07/26).
Data Polda Jatim mencatat selama Juni 2026 terdapat 320 kasus tindak pidana 3C, dengan 195 kasus berhasil diungkap dan 222 tersangka diamankan. Sejumlah pelaku diketahui masih berusia di bawah 17 tahun, bahkan sebagian hasil kejahatan digunakan untuk membeli narkoba.
Sekretaris Fraksi PKS DPRD Jatim itu mengatakan, pemerintah sebenarnya memiliki instrumen yang cukup lengkap untuk melakukan langkah-langkah pencegahan agar kasus serupa tidak terus meningkat.
“Kalau pemerintah segera melakukan edukasi secara masif dengan menggandeng pemerintah kabupaten/kota, ulama, organisasi kemasyarakatan, sekolah, hingga keluarga, saya yakin fenomena ini bisa ditekan,” katanya.
Puguh menilai fakta bahwa pelaku masih berstatus pelajar menunjukkan adanya persoalan yang tidak bisa dilepaskan dari lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Kalau mereka masih usia sekolah, berarti ada sesuatu yang perlu dievaluasi dalam tata kelola pendidikan kita. Kalau mereka masih tinggal bersama orang tua, berarti pola asuh, penanaman akhlak, dan pendidikan karakter di rumah juga harus menjadi perhatian serius,” tegasnya.
Ia menambahkan, ketahanan keluarga tidak hanya berbicara tentang kondisi ekonomi, tetapi juga menyangkut kualitas pengasuhan, komunikasi antara orang tua dan anak, serta penanaman nilai-nilai moral sejak dini.
Menurut Puguh, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup diukur dari tingginya angka partisipasi sekolah atau indeks pembangunan manusia semata. Yang tak kalah penting adalah memastikan anak-anak tumbuh dengan karakter yang kuat sehingga tidak mudah terjerumus pada tindak kriminal maupun penyalahgunaan narkoba.
“Jangan hanya mengejar capaian angka-angka pembangunan. Kita harus memastikan anak-anak kita memiliki akhlak, karakter, dan budi pekerti yang baik sebagai bekal menghadapi tantangan zaman,” bebernya
Karena itu, Puguh mendorong Pemprov Jatim menjadikan penguatan ketahanan keluarga sebagai salah satu agenda prioritas melalui kebijakan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat.
“Pemerintah memiliki kewenangan membuat regulasi dan melakukan intervensi. Sementara keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat harus bersinergi membangun benteng moral generasi muda. Kalau ini dilakukan secara serius, saya optimistis kasus-kasus seperti ini bisa ditekan,” pungkas anggota DPRD Jatim Daerah Pemilihan (Dapil) Makang Raya ini. (ari)

