Surabaya, MercuryFM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perbaikan kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur pada Februari 2026. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 3,55 persen, turun dari 3,61 persen pada Februari 2025 dan 3,74 persen pada Februari 2024.
Dari sisi jumlah, pengangguran berada di kisaran 0,89 juta orang pada Februari 2026, relatif stagnan dibanding Februari 2025 (0,89 juta orang), namun lebih rendah dibanding Februari 2024 (0,90 juta orang) dan Februari 2023 (1,01 juta orang).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur Ir. Herum Fajarwati, M.M. menyebut, penurunan TPT ini menunjukkan adanya perbaikan serapan tenaga kerja meski belum signifikan.
“Tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan dibandingkan Februari tahun lalu. Ini menunjukkan adanya tambahan penyerapan tenaga kerja di berbagai lapangan usaha,” ujarnya dalam rilis resmi.
Berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki masih lebih tinggi dibanding perempuan. Pada Februari 2026, TPT laki-laki tercatat 3,78 persen, sedangkan perempuan 3,24 persen. Keduanya menunjukkan perbaikan dibanding Februari 2025.
Sementara itu, kesenjangan wilayah masih terlihat, di mana TPT perkotaan sebesar 4,09 persen lebih tinggi dibanding perdesaan 2,68 persen.
“TPT di wilayah perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan perdesaan, yang menunjukkan tekanan pasar kerja di kawasan urban masih cukup besar,” jelasnya.
Jumlah penduduk bekerja tercatat 24,25 juta orang, meningkat dari 23,86 juta orang pada Februari 2025. Sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, diikuti perdagangan besar dan eceran serta industri pengolahan.
Dilihat dari status pekerjaan, komposisi terbesar adalah buruh/karyawan/pegawai sebesar 32,06 persen, diikuti berusaha sendiri 20,27 persen, serta berusaha dibantu buruh tidak tetap sebesar 19,49 persen. Adapun pekerja keluarga/tidak dibayar mencapai 15,14 persen.
Namun demikian, struktur ketenagakerjaan masih didominasi sektor informal. Pada Februari 2026, pekerja informal mencapai 64,44 persen atau 15,63 juta orang, jauh lebih besar dibanding pekerja formal sebesar 35,56 persen atau 8,63 juta orang.
“Pekerja informal masih mendominasi. Ini menjadi tantangan karena berkaitan dengan tingkat produktivitas, perlindungan kerja, dan keberlanjutan pendapatan,” tegasnya.
Dari sisi pendidikan, sebanyak 59,59 persen penduduk bekerja berpendidikan SMP ke bawah, sementara lulusan pendidikan tinggi masih di bawah 10 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski tingkat pengangguran menurun, kualitas dan formalitas tenaga kerja masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam mendorong daya saing ekonomi Jawa Timur. (lam)

