Ditengah efesiensi dan penerapan WFH, Setwan DPRD sukses peringkat ke dua keterbukaan Informasi Publik

Surabaya, MercuryFM – Sekretariat Dewan (Setwan) DPRD Jawa Timur dibawah kepemimpinan Sekertaris DPRD Jatim Mohammad Ali Kuncoro, sukses menempati peringkat kedua terbaik dalam monitoring dan evaluasi keterbukaan informasi publik dengan predikat “informatif”.

Ini sebuah capaian yang menegaskan kinerja Sekretariat Dewan tetap moncer di tengah tekanan efisiensi dan skema Work From Home (FWH) yang dibterapkan di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim.

Hal ini terungkap dalam Diskusi Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan DPRD Jatim yang mengambil tema “Memotret Kinerja DPRD Jatim di Tengah Efisiensi 2026” yang digelar di ruang Badan Musyawarah (Banmus), Rabu (29/04/26).

Komisioner Komisi Informasi Jawa Timur, Solahudin yang menjadi salah satu pembicara menyampaikan bahwa capaian Setwan DPRD Jatim merupakan hasil konkret komitmen terhadap keterbukaan informasi publik.

“Bertepatan dengan Hari Keterbukaan Informasi Nasional 30 April, Setwan DPRD Jatim ini selangkah di depan,” ujarnya.

Dalam hasil monev tahun 2025, Sekretariat DPRD Jatim meraih nilai tinggi dengan rincian SAQ 98,28, verifikasi faktual 100, dan presentasi 97,66, dengan total nilai 98,78 dan predikat “informatif”. Posisinya berada tepat di bawah Diskominfo Jatim.

Solahudin menambahkan, dari total 64 badan publik yang dievaluasi, baru 18 yang berhasil meraih predikat informatif. Sisanya masih belum memenuhi standar keterbukaan informasi.

“Artinya, capaian Setwan DPRD Jatim ini bukan hal biasa, tapi termasuk yang terbaik di Jawa Timur,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi A DPRD Jatim, Budiono, mengapresiasi langkah Sekretariat DPRD Jatim dalam menyikapi tekanan fiskal.

“Di tengah kondisi fiskal yang tidak mudah, apa yang dilakukan Setwan sudah tepat. Semangatnya tetap kebersamaan dan kerja maksimal,” katanya.

Budiono juga menyoroti langkah konkret efisiensi yang mulai diterapkan, termasuk evaluasi penggunaan energi dan BBM oleh Badan Keuangan Daerah (BKD). Bahkan, ia mengaku telah beralih menggunakan transportasi umum untuk mengurangi konsumsi BBM.

“Saya sekarang naik kereta dari Bojonegoro ke Surabaya. Penghematan BBM bisa sampai 50 liter,” ungkap politikus Gerindra ini.

Sedaangkan Sekretaris DPRD Jatim, Mohammad Ali Kuncoro, menegaskan bahwa efisiensi tidak menjadi penghambat produktivitas. Justru, menurutnya, adaptasi menjadi kunci utama menjaga kinerja tetap optimal.

“Di tengah efisiensi dan WFH, kami tetap aktif dan produktif. Kehadiran Pokja Indrapura sangat membantu, termasuk dalam meningkatkan kepercayaan publik,” ujarnya.

Ali juga menggambarkan Sekretariat DPRD Jatim sebagai “kendaraan berkapasitas besar” yang harus tetap melaju meski menghadapi pengetatan fiskal. Karena itu, diperlukan strategi penyesuaian tanpa kehilangan esensi representasi rakyat.

“Ada tiga hal yang kami pegang: penyesuaian tanpa kehilangan roh representatif, inovasi berbasis prioritas, dan keselarasan dengan program pemerintah seperti Nawa Bhakti Satya dan Asta Cita,” jelasnya.

Ali Kuncoro juga menekankan pentingnya pelayanan paripurna. Baginya, satu keluhan dari anggota dewan menjadi indikator bahwa sistem belum berjalan maksimal.

“Kalau masih ada yang komplain, berarti kita harus berbenah. Pelayanan harus tuntas,” tegasnya. (ari)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist