Surabaya, MercuryFM – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari tekanan geopolitik, fluktuasi harga energi dan bahan baku, hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara. Penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai menjadi strategi krusial untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Teknis Pengembangan Ekosistem Inovasi UMKM Untuk Masyarakat Surabaya, hasil kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Komisi X DPR RI yang digelar di Movenpick Hotel Surabaya, Minggu (26/4/2026).
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Puti Guntur Sukarno, menegaskan bahwa di tengah situasi global yang tidak menentu, UMKM justru memiliki peran strategis sebagai penopang ekonomi, khususnya di level masyarakat menengah ke bawah.
“Dalam situasi ekonomi sekarang, termasuk dinamika geopolitik, UMKM ini bisa menjadi tulang punggung perputaran ekonomi, terutama di level pedesaan dan masyarakat menengah ke bawah,” ujar Puti.
Ia mencontohkan ketangguhan UMKM saat pandemi Covid-19, ketika sektor formal mengalami kontraksi, namun aktivitas ekonomi tetap bergerak melalui sektor usaha kecil.
“Ketika masa Covid, perekonomian itu bergerak karena UMKM. Ini yang harus kita jaga dan perkuat,” katanya.
Namun, di tengah tekanan global seperti kenaikan harga bahan baku dan energi, Puti menilai pelaku UMKM tidak bisa dibiarkan berjuang sendiri. Diperlukan intervensi nyata dari pemerintah agar sektor ini tetap bertahan dan berkembang.
“Harus ada political will dari pemerintah. UMKM tidak bisa berjalan sendiri, apalagi ketika harga bahan seperti kedelai, LPG, atau bahan produksi lain mengalami kenaikan,” tegasnya.
Selain dukungan kebijakan, transformasi juga menjadi kunci. Puti menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pelaku UMKM, khususnya dalam hal branding, pemasaran digital, dan inovasi produk agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
“Masih banyak yang promosi secara konvensional. Padahal dengan teknologi digital, mereka bisa ‘level up’ dan menjangkau pasar lebih luas,” ujarnya.
Sementara itu, Ahli Muda Analis Kebijakan BRIN, Veni Robiatul Adawiyah, menyoroti bahwa tantangan UMKM di era persaingan global bukan hanya soal produksi, tetapi juga kemampuan membaca pasar dan membangun identitas produk.
“Jualan itu bisa sekali selesai. Tapi brand membuat orang beli lagi dan lagi. Branding itu bukan sekadar logo, tapi alasan kenapa orang memilih produk kita,” jelas Veni.
Ia menambahkan, dalam kondisi ekonomi yang kompetitif, produk UMKM harus benar-benar relevan dengan kebutuhan pasar agar mampu bertahan.
“Sering kali produknya bagus, tapi tidak dibutuhkan pasar. Kuncinya adalah memastikan produk kita menyelesaikan masalah konsumen,” ujarnya.
Melalui penguatan branding, pemanfaatan teknologi digital, serta dukungan kebijakan yang adaptif terhadap tekanan global, UMKM di Surabaya diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas dan menjadi bagian penting dari rantai ekonomi yang lebih luas. (lam)
