Surabaya, MercuryFM – Lonjakan harga plastik akibat gangguan distribusi minyak dan bahan baku petrokimia di tengah konflik global justru dinilai sebagai peluang untuk mempercepat peralihan menuju kemasan ramah lingkungan.
Dosen Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Rizkiy Amaliyah Barakwan ST, mengatakan kenaikan harga plastik yang dipicu penutupan Selat Hormuz berdampak langsung pada rantai pasok industri. Namun, dari perspektif lingkungan, kondisi ini bisa menjadi momentum positif.
“Wadah ramah lingkungan memiliki biodegradabilitas tinggi, dapat terurai dalam hitungan minggu, sehingga mengurangi pencemaran. Selain itu, jejak karbonnya lebih rendah dan mendukung ekonomi sirkular, seperti petani daun pisang maupun produsen kertas daur ulang,” ujarnya.
Menurut Rizkiy, fenomena ini dapat menjadi titik awal perubahan sistem yang lebih luas jika dikelola dengan baik. Kesadaran masyarakat mulai meningkat, terlihat dari tren UMKM yang beralih ke kemasan ramah lingkungan dan viral di media sosial. Perubahan ini juga mendorong konsumen untuk mulai terbiasa menggunakan kemasan non-plastik.
“Keberlanjutan tidak hanya digerakkan oleh regulasi, tetapi juga permintaan pasar. Lonjakan harga plastik membuka peluang keluar dari ketergantungan struktural terhadap material berbasis fosil,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak akan berdampak optimal tanpa dukungan sistem yang memadai. Standarisasi, edukasi terkait higienitas dan keamanan pangan, serta kebijakan pemerintah menjadi faktor penting. Salah satunya melalui pemberian insentif bagi UMKM yang beralih ke kemasan ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Rizkiy menilai fenomena ini berpotensi mendukung pencapaian sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), di antaranya SDGs 8, 11, 12, 14, dan 15. Namun, implementasinya perlu disertai edukasi menyeluruh agar pelaku usaha dan konsumen tidak hanya mengganti bahan, tetapi juga memahami pengelolaan limbah secara berkelanjutan.
“Inovasi sistem pengolahan diperlukan agar bahan biodegradable benar-benar kembali ke lingkungan. Pendekatan life cycle thinking juga penting agar solusi yang diambil tidak menimbulkan dampak baru,” tambahnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan plastik, menggunakan kembali wadah yang ada, serta beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan. Sementara itu, pelaku usaha didorong menerapkan sistem tanpa kemasan, seperti program isi ulang atau pemberian insentif bagi konsumen yang membawa wadah sendiri.
“Pelaku usaha juga perlu transparan kepada konsumen jika ada penyesuaian harga akibat kenaikan bahan baku,” pungkasnya. (lam)

