Surabaya – Tingkat akses digital di kalangan perempuan di Jawa Timur saat ini sudah tergolong tinggi. Sehingga perempuan harus bisa secara bijak dan produktif dalam memanfaatkan akses digital.
Hal ini dikatakan Ketua Komisi E DPRD Jatim Sri Untari Bisawarmo saat menjadi narasumber dalam acara seminar bertajuk “Peran Perempuan Dalam Mengakses dan Menyebarkan Informasi di Era Digital” digelar dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang digelar Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Jatim di Aula Gedung Wartawan, PWI Jatim, Jumat (10/04/26).
“Lebih dari 80 persen perempuan di Jawa Timur sudah mengakses teknologi digital, termasuk penggunaan handphone yang semakin meluas,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah wilayah, khususnya di desa-desa, yang belum terjangkau akses internet. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pemerataan literasi digital bagi perempuan.
Sri Untari menekankan pentingnya edukasi agar perempuan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Menurutnya, berbagai peluang terbuka lebar, mulai dari menjadi kreator konten seperti YouTuber hingga terlibat dalam program afiliasi digital.
“Perempuan bisa mendapatkan tambahan pendapatan tanpa harus bekerja di luar rumah, misalnya dengan memanfaatkan media sosial atau menjadi afiliator,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi digital harus dibarengi dengan pemahaman yang tepat, terutama dalam mengelola konten dan proses monetisasi.
“Perlu edukasi lanjutan agar perempuan mampu menjadi operator digital yang cerdas, sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan mereka dan lingkungan sekitar,” tegasnya.
Orang tua khususnya Ibu harus manfaatkan aplikasi parenting
Dalam kegiatan yang juga dihadiri Ketua penggerak PKK Jatim Arumi Bachsin Emil Dardak, Sri Untari yang juga politisi PDIP ini menyoroti pula pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget pada anak melalui pemanfaatan teknologi, salah satunya aplikasi parenting.
“Pengawasan pada ansk penting agar anak bisa lebih positif dalam menggunakan ruang digital,” ujarnys.
Menurutnya, kehadiran portal atau aplikasi parenting dapat membantu orang tua memantau aktivitas digital anak, termasuk konten yang mereka akses di internet. Karena apa yang dikonsumsi anak di dunia digital sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis mereka.
“Sampai kepada portal tentang parenting, jadi orang tua bisa mengontrol anak-anaknya dari aplikasi itu. Saya senang sekali karena ini membantu ibu-ibu, termasuk ibu muda, untuk mengawasi anak-anaknya, terutama usia SD ke bawah,” ujar Untari.
Untari menjelaskan, kontrol terhadap aktivitas browsing anak menjadi krusial. Konten yang diakses anak dapat membentuk pola pikir dan kondisi kejiwaan mereka. Ia mengingatkan bahwa tanpa pengawasan, penggunaan gadget dapat berdampak negatif.
Ia juga menyinggung fenomena meningkatnya ketergantungan gadget pada anak-anak. Berdasarkan pengamatan di RSJ Menur, jumlah anak dengan tingkat ketergantungan terhadap gadget justru terus meningkat, mulai dari tingkat SMA hingga SD.
“Bukan semakin menurun, tapi justru meningkat. Anak-anak sekarang bisa stres kalau tidak memegang gadget,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi semua pihak, khususnya orang tua, dalam mendampingi anak di era digital. Untari menegaskan bahwa kehadiran gadget seharusnya menjadi sarana yang mendukung tumbuh kembang anak, bukan justru berdampak sebaliknya.
“Ini menjadi tantangan bagi kita semua. Kehadiran gadget harus menumbuhkan generasi yang lebih baik, bukan malah sebaliknya,” tegas Untari. (ari)

