Surabaya, MercuryFM – Temuan kandungan mikroplastik pada air hujan di Kota Surabaya memantik perhatian publik beberapa waktu terakhir. Banyak warga mempertanyakan apakah fenomena tersebut merupakan ancaman baru bagi kesehatan dan lingkungan.
Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, Dwi Ratri Mitha Isnadina ST MT, menyebut keberadaan mikroplastik pada air hujan bukanlah hal yang mengejutkan. Fenomena ini sudah terjadi di berbagai negara dan menjadi bagian dari dinamika pencemaran lingkungan secara global.
“Mikroplastik sudah banyak teridentifikasi pada media air seperti sungai maupun laut. Ketika air mengalami penguapan, partikel-partikel ini dapat terbawa ke atmosfer dan akhirnya kembali turun bersama hujan. Jadi, temuan mikroplastik pada air hujan di Surabaya bukanlah hal baru,” jelasnya, Rabu (03/12/2025).
Ratri menjelaskan, mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran 1 mikrometer hingga 5 milimeter. Jika berukuran lebih kecil dari 1 mikrometer, partikel tersebut dikategorikan sebagai nanoplastik. Berdasarkan sumbernya, mikroplastik terbagi menjadi dua jenis, yakni primer dan sekunder.
“Primer itu sejak awal berukuran mikro, misalnya butiran scrub pada produk sabun wajah. Kalau sekunder berasal dari degradasi plastik berukuran besar,” paparnya.
Selain produk konsumen, aktivitas manusia seperti pembakaran sampah juga menyumbang pelepasan partikel plastik ke udara. Ia menekankan bahwa pembakaran sampah secara terbuka menjadi pemicu lebih tinggi dibanding fasilitas resmi yang sudah dilengkapi unit pengendali gas buang.
Bahaya bagi ekosistem
Menurut pakar Teknik Lingkungan UNAIR tersebut, paparan mikroplastik tidak serta-merta menimbulkan efek langsung bagi kesehatan manusia dalam waktu dekat. Namun, dampaknya terhadap ekosistem justru perlu diwaspadai.
“Air hujan yang mengandung mikroplastik akan mengalir sebagai limpasan menuju ekosistem air. Di sana, mikroplastik dapat termakan biota seperti ikan, dan pada akhirnya masuk kembali ke tubuh manusia melalui rantai makanan,” terangnya.
Mikroplastik juga dapat mengikat logam berat dan polutan berbahaya lain. Sejumlah riset bahkan mulai mengaitkannya dengan inflamasi dan gangguan kardiovaskular. Meski begitu, Ratri menegaskan penelitian terkait risiko bagi manusia masih terus berkembang dan belum bersifat konklusif.
Ratri menilai, upaya mengurangi mikroplastik tidak hanya dibebankan pada konsumen, tetapi juga perlu didorong lewat kebijakan yang mengatur produsen.
“Jika ke depannya mikroplastik jadi fokus regulasi, maka parameter pengukurannya akan semakin jelas dan intensif,” tambahnya.
Masyarakat diminta tetap tenang
Di akhir, ia mengimbau publik agar tidak mudah panik atau terpancing isu viral tanpa dasar pengetahuan yang kuat.
“Masyarakat harus mencari informasi lebih dalam. Penting untuk memahami apakah fenomena ini benar-benar baru atau justru sudah terjadi sejak lama. Dengan literasi yang baik, kita bisa merespons informasi secara bijak,” pungkasnya. (lam)

