Surabaya, MercuryFM – Di balik toga yang dikenakan Syarifatul Ummah, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Ma’arif Hasyim Latief (UMAHA) tersimpan kisah panjang perjuangan seorang ayah yang bekerja sebagai driver ojek online. Heri Susilo, warga Jatikalang, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, setiap hari berangkat sejak pukul 05.30 dan baru kembali ketika hari hampir larut, demi satu tujuan: memastikan anaknya bisa kuliah dan meraih masa depan yang lebih baik.
Heri tidak menutupi bahwa hidup keluarganya jauh dari kata mampu. Namun ia dan istrinya menata penghasilan dengan ketat agar cukup untuk biaya kuliah dan kebutuhan makan sederhana sehari-hari.
“Kelihatannya memang enggak mampu, tapi kita menata. Biarpun apapun keadaannya, anak harus berprestasi. Saya harus semangat, anak juga harus semangat,” ujarnya usai prosesi wisuda yang berlangsung di Dyandra Convention Hall pada Sabtu (15/11/2025).
Prinsip hidup Heri sederhana: disiplin dan jujur. Dua nilai itu ia tanamkan sejak anaknya duduk di bangku SMP. Bahkan ketika Ummah masuk kuliah, ia punya satu pesan yang selalu ia ulangi, tegas namun penuh makna.
“Nek kamu kuliah, jangan pacaran. Nek kamu pacaran, jangan kuliah.” Ia ingin fokus pendidikan anaknya tetap lurus.
Perjalanan itu bukan tanpa pengorbanan. Selama bertahun-tahun Ummah sekolah tanpa sepeda. Baru ketika masuk kuliah Heri nekat mengambil kredit. Begitu juga laptop—baru terbeli saat semester tujuh karena tingkat kebutuhan yang makin mendesak. Sebelumnya, Ummah harus meminjam laptop teman untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
Meski keras bekerja, Heri mendidik anaknya dengan pendekatan lembut. “Saya dudukkan, saya ajak bicara baik-baik. Yang penting kamu disiplin dan jujur, insyaallah jalanmu benar,” tuturnya.
Kini semua perjuangan itu terbayar. Ummah lulus tepat waktu sebagai sarjana hukum. Ia mengaku memilih jurusan itu karena sering melihat orang tuanya menghadapi persoalan sengketa keluarga. Ia ingin suatu saat dapat membantu keluarga dan memperjuangkan keadilan.
Momen wisuda menjadi puncak haru. Heri dan Ummah tak mampu menahan tangis kebahagiaan. Segala kerja keras dan keterbatasan yang dilalui bertahun-tahun seakan pecah di satu titik ketika nama Ummah dipanggil sebagai lulusan Fakultas Hukum.
“Ayah itu pertama kali saya lihat menangis dari hati waktu rumah sempat roboh dulu. Itu yang bikin saya ingin ayah sehat sampai saya sukses,” ujar Ummah sambil terisak.
Heri hanya berharap satu hal: anaknya menjadi pribadi yang bermanfaat. “Kalau kamu ambil hukum, kamu harus tegak lurus. Nek benar ya benar, salah ya salah,” pesannya.
Dalam kesempatan terpisah, Rektor UMAHA, dr. Hidayatulloh, Sp.N., menegaskan bahwa kisah seperti yang dialami keluarga Heri adalah alasan mengapa kampus harus membuka akses dan memberi ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Pada wisuda angkatan ke-23 itu, ia menekankan bahwa UMAHA mendukung penuh mahasiswa kurang mampu melalui berbagai jalur bantuan.
“Satu, ada program beasiswa dari pemerintah, yaitu KIP. Begitu ada peluang, kita fasilitasi dan ajukan mahasiswa yang memang layak dan terverifikasi,” jelasnya.
Selain itu, UMAHA memiliki 10 program beasiswa internal yang sudah berjalan dua tahun terakhir, mulai dari beasiswa perangkat desa hingga beasiswa alumni.
“Meski kami perguruan tinggi swasta, kami peduli terhadap masyarakat yang punya keinginan kuat kuliah tapi terkendala biaya,” tambahnya.
Rektor juga menekankan karakter dan adab sebagai keunggulan kampus. “Tagline kami unggul dalam adab. Sejak mahasiswa pertama masuk, kami tekankan akhlak. Ini terbukti ketika KKN atau PKL, masyarakat selalu mengapresiasi.” (lam)

