Surabaya, MercuryFM – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan, pemberian gelar pahlawan nasional tidak bisa diputuskan hanya atas dasar pertimbangan politik atau kekuasaan.
Pernyataan itu disampaikan Hasto saat menghadiri pemutaran film “Bung Tomo” di Balai Pemuda Surabaya, Minggu malam (9/11/2025), dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November. Acara tersebut dihadiri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Dalam kesempatan itu, Hasto secara tegas menyoroti munculnya usulan agar Presiden Soeharto dianugerahi gelar pahlawan nasional. Menurutnya, pahlawan sejati bukanlah mereka yang berkuasa atau dikenal karena kekuatan politik, tetapi mereka yang rela berkorban bagi bangsa dan rakyat tanpa pamrih.
“Menjadi pahlawan itu bukan persoalan politik. Menjadi pahlawan adalah pengorbanan bagi kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Ada integritas moral dan kemanusiaan di dalamnya,” tegas Hasto.
Ia menjelaskan, gelar pahlawan adalah bentuk penghormatan tertinggi yang hanya layak diberikan kepada sosok yang memiliki keteladanan moral, keberanian, dan pengabdian kepada bangsa, bukan kepada mereka yang meninggalkan catatan kelam dalam sejarah kemanusiaan.
“Pahlawan adalah sosok yang menempuh jalan pengorbanan, bukan jalan memperkaya keluarga atau melanggar nilai kemanusiaan. Ia menjadi teladan, bukan simbol kekuasaan,” lanjutnya.
Hasto menambahkan, sejarah perjuangan bangsa menunjukkan bahwa para pendiri republik seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan WR Supratman menempuh jalan yang berat penuh pengorbanan, bukan jalan politik praktis.
“Sikap PDI Perjuangan sudah jelas. Gelar pahlawan tidak boleh dipolitisasi. Ia harus berangkat dari legitimasi moral dan perjuangan nyata bagi rakyat,” tegasnya.
Dalam suasana reflektif di Balai Pemuda Surabaya itu, Hasto juga mengaitkan semangat Bung Tomo dan pertempuran 10 November 1945 sebagai simbol keberanian pemuda Indonesia yang berjuang tanpa pamrih.
“Bung Tomo mengajarkan bahwa kepahlawanan berarti menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan keluarga. Itu semangat yang perlu kita hidupkan kembali,” ujarnya.
PDI Perjuangan, lanjut Hasto, akan terus mendorong generasi muda untuk meneladani semangat perjuangan, kejujuran, dan integritas para pahlawan bangsa dalam menghadapi tantangan zaman, sekaligus menolak segala bentuk upaya memutarbalikkan sejarah perjuangan rakyat.
Acara pemutaran film Bung Tomo malam itu ditutup dengan pesan reflektif agar Hari Pahlawan tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi sebagai momentum memperkuat komitmen moral, kebangsaan, dan keberanian untuk melawan segala bentuk ketidakadilan. (Lam)

