Refleksi Hari Jadi ke-80 Tahun Provinsi Jawa Timur: Mengokohkan Keluarga, Menyiapkan Generasi Emas

Oleh: Irwan Setiawan Mahasiswa Program Doktoral Administrasi Publik Universitas Hangtuah Surabaya, Anggota DPRD Jatim Periode 2009 - 2014

Surabaya, MercuryFM – “Keluarga tangguh melahirkan generasi kuat. Dari rumah yang sehat dan sejahtera, Jawa Timur tangguh dan akan terus bertumbuh.” Ketangguhan sebuah daerah tidak selalu lahir dari gedung-gedung tinggi, proyek raksasa, atau jalan tol yang membentang. Ia justru bermula dari tempat paling sederhana: rumah. Dari keluarga yang saling menatap dengan kasih, berpelukan dalam doa, dan berjuang bersama di tengah perubahan zaman.

Tahun ini, Provinsi Jawa Timur genap berusia 80 tahun. Tema “Jatim Tangguh dan Terus Bertumbuh” terasa kian relevan di tengah arus globalisasi dan disrupsi sosial yang deras. Sebab ketangguhan sejati bukan hanya soal kemampuan bertahan, tetapi juga kemampuan untuk terus tumbuh, berakar pada nilai, namun lentur menghadapi zaman. Dan semua itu bermula dari keluarga yang kokoh.

Teori Family Resilience (Froma Walsh) menegaskan, keluarga tangguh adalah mereka yang mampu beradaptasi, berkomunikasi terbuka, dan berpegang pada nilai spiritual sebagai sumber kekuatan. Dalam konteks Jawa Timur, ketangguhan keluarga menjadi benteng utama menghadapi tekanan ekonomi, perubahan gaya hidup, hingga disrupsi nilai di era digital.

Data BPS mencatat, rata-rata anggota rumah tangga di Jawa Timur berjumlah 3,6 orang. Angka ini menunjukkan intensitas interaksi sosial yang padat di tingkat keluarga, sekaligus menegaskan pentingnya kualitas kehidupan setiap individu di dalamnya. Keluarga kuat bukan hanya yang mapan secara ekonomi, tetapi juga yang harmonis, sehat mental, dan memiliki nilai moral yang kokoh.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya keluarga sebagai pusat pembangunan manusia. “Keluarga yang kuat dan harmonis memberikan landasan yang kokoh dalam pembangunan manusia yang berkelanjutan. Utamanya dalam melahirkan generasi emas dalam mendukung Indonesia Maju.”

Selain itu, Khofifah juga menyampaikan, “Keluarga yang dapat menjaga komunikasi, kehangatan, dan nilai-nilai kebersamaan akan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Inilah basis ketahanan sosial kita.”

Pandangan ini menegaskan bahwa pemerintah provinsi memandang keluarga bukan sekadar unit rumah tangga, melainkan fondasi sosial bagi lahirnya ketahanan masyarakat dan generasi unggul.

Program-program seperti Jatim Sehat, Jatim Cerdas, dan Jatim Kerja telah menjadi langkah nyata. Namun untuk mewujudkan keluarga tangguh, dibutuhkan sinergi lintas sektor dunia usaha, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat sipil. Literasi keluarga, pembinaan ekonomi rumah tangga, dan gerakan hidup sehat perlu menjadi budaya baru masyarakat Jatim.

Dalam perspektif good governance, pembangunan keluarga tidak bisa dibebankan hanya pada pemerintah. Prinsip-prinsip governance, partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan kolaborasi — harus diterapkan dalam skala mikro maupun makro.

Menurut teori Collaborative Governance (Ansell & Gash, 2007), keberhasilan kebijakan publik sangat bergantung pada keterlibatan aktif berbagai aktor di luar negara: masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan organisasi sosial. Prinsip ini relevan bagi Jawa Timur yang kaya inisiatif lokal dan gotong royong masyarakat.

Keluarga tangguh lahir ketika ada kolaborasi antara kebijakan publik yang berpihak, dunia usaha yang peduli, tokoh agama yang membimbing, media yang mendidik, dan komunitas yang saling menguatkan. Inilah wajah nyata governance berbasis keluarga: tata kelola pembangunan yang berpusat pada manusia dan berakar pada nilai-nilai sosial budaya daerah.

Ketangguhan keluarga tidak mungkin lahir tanpa fondasi kesehatan dan kesejahteraan. Mengacu pada Maslow’s Hierarchy of Needs, pemenuhan kebutuhan dasar seperti gizi, keamanan, dan kesehatan menjadi prasyarat agar keluarga mampu berkembang secara sosial dan psikologis.

Pemerintah daerah dapat memperkuat program “Keluarga Sejahtera Enam Pilar”: kesehatan ibu-anak, gizi, pendidikan, ekonomi rumah tangga, lingkungan sehat, dan perlindungan sosial. Keluarga yang berhasil memenuhi indikator tersebut layak disebut keluarga unggul, dan patut mendapat prioritas dalam pelatihan digital, fasilitasi modal UMKM, serta akses program pemberdayaan.

Gerakan berbasis komunitas seperti Selasa Sehat dan Bugar, Jumat Tanpa Sampah, atau Gerakan Masjid Sehat bisa menjadi langkah sederhana yang menumbuhkan kesadaran hidup sehat sekaligus memperkuat nilai kebersamaan. Dari kebiasaan kecil seperti inilah ketangguhan sosial tumbuh dan mengakar.

Pembangunan Jawa Timur ke depan tak bisa dilepaskan dari peran generasi muda. Menurut Generational Cohort Theory (Howe & Strauss), setiap generasi memiliki karakter dan tantangan unik. Generasi milenial dikenal idealis dan kolaboratif, sedangkan generasi Z cepat beradaptasi dan akrab dengan teknologi.

Namun keduanya menghadapi tekanan besar: krisis identitas, paparan media sosial berlebihan, dan rapuhnya nilai keluarga. Karena itu, peran keluarga dan pendidikan menjadi kunci dalam menumbuhkan daya tahan moral dan spiritual generasi muda. Generasi X dan baby boomer dapat memberi teladan nilai, sementara generasi muda menjadi motor inovasi di bidang ekonomi kreatif, sosial, dan digital.

Pemerintah daerah bisa memfasilitasi ruang kolaborasi kreatif di setiap kabupaten/kota — seperti coworking space desa, inkubasi startup, pelatihan teknologi pertanian, hingga wisata kreatif berbasis lokal — agar semangat “terus bertumbuh” benar-benar hadir di ruang nyata.

Ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, menegaskan bahwa pembangunan sejati bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, melainkan perluasan kebebasan manusia untuk hidup produktif, sehat, dan bermartabat. Dalam kerangka governance, pembangunan semacam ini menuntut partisipasi aktif warga, akuntabilitas pemerintah, serta keadilan sosial dalam setiap kebijakan.

Dengan tata kelola yang inklusif dan berkeadilan, keluarga akan menjadi pusat penguatan nilai, masyarakat tumbuh dalam solidaritas, dan generasi muda tampil sebagai agen perubahan.
Jika keluarga di Jawa Timur kokoh, masyarakat pun tangguh. Bila generasi mudanya produktif dan berbudi pekerti, maka Jawa Timur akan terus bertumbuh. Ketangguhan sejati tidak lahir dari proyek besar, tetapi dari rumah yang sederhana, penuh kasih, dan berdaya. (ari)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist