Surabaya, MercuryFM – Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur menunjukkan tren positif hingga Agustus 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kumulatif Januari–Agustus 2025 mencapai US$19,58 miliar, tumbuh 15,92 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Sementara itu, nilai impor pada periode yang sama tercatat US$19,16 miliar, atau turun 4,31 persen. Dengan capaian tersebut, neraca perdagangan Jawa Timur mengalami surplus sebesar US$0,42 miliar, jauh lebih baik dibanding tahun lalu yang defisit hingga US$3,13 miliar.
Paparan BPS Jatim
Dalam BRS (Berita Resmi Statistik) yang dipaparkan Ibu Debora Sulistya Rini, M.Si – Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jawa Timur, disebutkan bahwa peningkatan ekspor Jawa Timur tidak lepas dari kontribusi komoditas unggulan seperti perhiasan/permata, tembaga, lemak dan minyak hewan/nabati, serta ikan dan kayu olahan.
“Ekspor Jawa Timur pada Agustus 2025 tumbuh 11,14 persen dibandingkan Agustus 2024. Kenaikan ini terutama disumbang dari sektor pertanian dan pertambangan,” jelas Debora.
Ia juga menegaskan bahwa surplus perdagangan yang dicapai Jawa Timur menjadi indikator positif di tengah dinamika perdagangan global. “Meskipun impor mengalami penurunan, Jawa Timur tetap mampu menjaga kinerja ekspor dengan memanfaatkan potensi pasar nontradisional,” tambahnya.
Ekspor didominasi perhiasan dan minyak nabati
Komoditas ekspor nonmigas terbesar berasal dari sektor perhiasan/permata dengan nilai mencapai 22,82 persen dari total ekspor. Disusul tembaga (8,69 persen) serta lemak dan minyak hewan/nabati (8,02 persen).
Dari sisi tujuan ekspor, Swiss menjadi mitra dagang utama dengan nilai US$3,00 miliar, didominasi perhiasan/permata yang menyumbang 99,93 persen. Ekspor ke Amerika Serikat mencapai US$2,45 miliar, terutama berasal dari produk ikan, kayu, dan perabot. Adapun ekspor ke Tiongkok tercatat US$2,42 miliar, didorong produk minyak nabati, tembaga, dan kimia.
Impor masih didominasi Tiongkok
Di sisi impor, Jawa Timur masih bergantung pada Tiongkok dengan nilai US$5,58 miliar atau 35 persen dari total impor nonmigas. Barang yang paling banyak diimpor antara lain mesin dan peralatan mekanis, buah-buahan, serta besi dan baja. Selain Tiongkok, impor juga datang dari Amerika Serikat (US$0,97 miliar) dan Brazil (US$0,69 miliar).
Prospek ke depan
Surplus perdagangan yang berhasil dicapai hingga Agustus 2025 menunjukkan ketahanan sektor perdagangan Jawa Timur, terutama di tengah tekanan global. Peningkatan ekspor dari sektor pertanian dan pertambangan menjadi penopang penting, di saat impor menunjukkan tren penurunan, khususnya dari komoditas migas. (lam)

