Surabaya, MercuryFM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat perkembangan Garis Kemiskinan pada September 2024 dan Maret 2025.
Kepala BPS Provinsi Jatim Zulkipli mengatakan, Garis Kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan non makanan yang harus dipenuhi, agar tidak dikategorikan miskin.
“Sedangkan penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan,” terangnya.
Berdasarkan catatan BPS Provinsi Jatim,
Garis Kemiskinan pada Maret 2025 adalah sebesar Rp558.029,- per kapita per bulan. Dibandingkan September 2024, Garis Kemiskinan naik sebesar 1,88 persen.
Zulkipli menerangkan, bahwa peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan dalam mempengaruhi Garis Kemiskinan.
“Besarnya sumbangan GKM (Golongan Kelompok Makanan) terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2025 sebesar 76,29 persen,” ujarnya.
Pada Maret 2025, komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan, baik di perkotaan maupun di perdesaan, pada umumnya hampir sama.
“Beras masih memberi sumbangan terbesar yakni sebesar 23,47 persen di perkotaan dan 26,00 persen di perdesaan.
Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap Garis Kemiskinan besarannya 9,61 persen di perkotaan dan 8,76 persen di perdesaan,” kata Zulkipli.
Komoditi lainnya adalah:
* Telur ayam ras (4,17 persen di perkotaan dan 3,90 persen di perdesaan).
*Daging ayam ras (3,83 persen di perkotaan dan 3,48 persen di perdesaan).
*Gula Pasir (2,53 persen di perkotaan dan 2,83 persen di perdesaan).
*Tempe (2,62 persen di perkotaan dan 2,32 di perdesaan).
*Tahu (2,59 persen di perkotaan dan 2,21 persen di perdesaan).
*Kue Basah (2,52 persen di perkotaan dan 2,32 di perdesaan).
Sedangkan komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar baik pada Garis Kemiskinan perkotaan dan perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, perlengkapan mandi, dan kesehatan. (lam)

