PDRB sektor pertanian turun, Abdullah Abu Bakar: Ini warning, Pemprov harus segera lakukan inovasi

Surabaya, MercuryFM – Turunnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim dari sektor pertanian merupakan warning yang harus disikapi oleh Pemerintah Provinsi Jatim. Data dari BPS Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Jawa Timur mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Anggota Komisi C DPRD Jatim Abdullah Abu Bakar mengatakan, penurunan ini cukup memprihatinkan mengingat sektor pertanian masih menjadi salah satu andalan di Jatim.

Dari catatan yang dimiliki, penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Jawa Timur dari 11,88% pada tahun 2020 menjadi 10,66% pada tahun 2024.

“Jika hal ini dibiarkan tentunya sangat bahaya sekali dalam mendukung program pemerintah pusat yaitu swasembada pangan. Hal ini perlu menjadi perhatian Pemprov agar lakukan inovasi agar tidak semakin turun setiap tahunnya,” ujarnya pada mercuryfm.id, Jumat (11/07/25).

Dengan hal itu dirinya meminta ada tindakan yang kongkrit dari Pemprop Jatim agar hal ini bisa segera di atasi.

“Dengan adanya data dari BPS tersebut membuka mata agar membuat program lebih bagus. Ada intervensi dari pemerintah agar punya inovasi untuk terus meningkatkan PDRB pertanian. Caranya tentu membuat program yang bisa meningkatkan produk pertanian,” jelasnya.

Dinas Pertanian Jawa Timur, kata politisi PAN ini, harus punya jurus bagaimana caranya agar ada kenaikan PDRB dari sektor pertanian tersebut.

“Ini harus diperhatikan merka sebagai leading sektornya. Ini penting sekali agar persoalan ini bisa segera di lakukan pembenahan,” ucapnya.

Kata mantan Walikota Kediri dua periode ini, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menaikkan PDRB sektor pertanian. Diantaranya dukungan nyata pada sektor pertanian, termasuk pemberdayaan petani, penyediaan alat dan mesin pertanian modern, serta akses pembiayaan dan pasar yang mudah.

“Dan yang lebih penting lagi, saya menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga kesejahteraan petani sebagai pelaku utama,” tegasnya.

Sekedar diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat penurunan kontribusi sektor pertanian dari 11,88% pada tahun 2020 menjadi 10,66% pada tahun 2024.

Hal ini menjadi perhatian serius karena dapat mempengaruhi ketahanan pangan. Pada bulan Februari 2025, NTP Jawa Timur tercatat sebesar 110,90 atau turun 2,08 persen, menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. Pada bulan April 2025, NTP kembali turun menjadi 109,47 atau turun 1,92 persen.(ari)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist