Kampung Lali Gadget: Upaya Melestarikan Permainan Tradisional dan Edukasi Karakter Anak dengan Dukungan PLN Peduli

Wonoayu, MercuryFM – Kampung Lali Gadget (KLG), yang terletak di Dusun Bendet, Desa Pagerngumbuk, Wonoayu, Sidoarjo, menjadi solusi kreatif untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda yang terpengaruh oleh kecanduan gadget. Berdiri di atas lahan seluas 50×50 meter di Kebon Gayam dan 25×30 meter di pendopo depan, KLG mampu menampung ratusan anak yang antusias bermain permainan tradisional yang kini mulai tergerus perkembangan teknologi.

Tidak hanya anak-anak, para orang tua pun turut bergabung dalam kegiatan ini, mengenang masa kecil mereka sekaligus mempererat hubungan keluarga. Selain menjadi wahana edukasi, KLG juga memberikan dampak positif pada ekonomi lokal, terutama bagi pelaku UMKM di sekitarnya. Salah satu warga, Mbak Jul, mengungkapkan pendapatannya bisa mencapai Rp2 juta per hari saat ada acara besar, meskipun pada hari biasa hanya sekitar Rp300 ribu.

“Walau tidak selalu ramai, keberadaan KLG sangat membantu ekonomi keluarga saya. Suami bekerja sebagai buruh pabrik, jadi penghasilan dari sini cukup meringankan beban rumah tangga,” jelas Mbak Jul.

Founder KLG, Achmad Irfandi, mendirikan tempat ini dengan tujuan mengatasi keresahan akibat kecanduan gadget yang melanda anak-anak. “Banyak anak yang kecanduan hingga lupa waktu dan bahkan mengalami perubahan karakter. Kampung Lali Gadget hadir sebagai upaya sederhana untuk mengatasi masalah ini melalui permainan tradisional,” tuturnya.

KLG menawarkan beragam aktivitas edukatif berbasis permainan tradisional, seperti gobak sodor, dakon, bakiak, egrang, hingga permainan berbahan alami seperti membuat wayang dari daun singkong dan bermain lumpur. Aktivitas ini menarik perhatian banyak sekolah, mulai dari TK hingga SMP, yang menjadikan KLG sebagai tempat kunjungan edukasi.

“Permainan seperti menangkap ikan dan bermain lumpur menjadi favorit anak-anak karena memberikan pengalaman unik yang tidak ditemukan di tempat wisata lain,” tambah Irfandi.

Sejak tahun 2018, KLG mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk dari PLN melalui program TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan). General Manager PLN UID Jawa Timur, Ahmad Mustaqir, menjelaskan bahwa dukungan PLN mencakup revitalisasi fasilitas seperti kolam bermain, pendopo baca, serta pengadaan program edukasi seperti klinik kecanduan gadget dan lomba permainan tradisional “Elingpiade.”

“PLN sejalan dengan visi pendidikan karakter yang menjunjung budaya lokal. Kampung Lali Gadget menjadi bukti nyata bagaimana pendidikan moral dan budaya dapat berjalan berdampingan dengan kemajuan zaman,” ujar Ahmad Mustaqir.

Dukungan PLN berlanjut hingga tahun 2027 melalui roadmap pendampingan yang diharapkan dapat menjadikan KLG sebagai ikon desa edukasi yang mandiri dan dapat direplikasi di wilayah lain.

Melalui sinergi dengan berbagai pihak, KLG terus menjadi simbol pelestarian budaya lokal sekaligus edukasi karakter. Teknologi memang penting, tetapi nilai-nilai budaya dan moral harus tetap dijaga. Kampung Lali Gadget membuktikan bahwa permainan tradisional dapat menjadi media pembelajaran yang efektif, sekaligus membangun generasi muda yang kaya akan nilai budaya dan karakter positif.

KLG bukan sekadar tempat wisata, melainkan sebuah gerakan sosial yang menginspirasi perubahan, dimulai dari desa untuk Indonesia yang lebih baik.(dan) 

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist