Gebyar Musim Giling Tebu: Pj. Gubernur Jawa Timur Dorong Swasembada dan Jadikan Jatim Lumbung Gula Nasional

Surabaya, MercuryFM – Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono, mengajak seluruh pelaku industri gula untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produksi gula di Jawa Timur. Harapannya, ini bisa memperkuat Jatim sebagai lumbung gula nasional sekaligus mewujudkan swasembada gula di Indonesia.

“Kami mengajak semua komponen industri gula, mulai dari petani, pabrik gula, hingga lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan lembaga keuangan untuk bersinergi dalam meningkatkan kualitas dan daya saing produksi,” ungkap Adhy dalam acara Gebyar Musim Giling Tebu di Sidoarjo, dikutip dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (8/11/2024).

Adhy menekankan bahwa kerja sama antara petani tebu, produsen gula, dan pemerintah provinsi adalah kunci keberhasilan industri gula di Jatim, yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari tebu rakyat. Sinergi ini semakin kuat dengan adanya Peraturan Gubernur Nomor 87 Tahun 2014 yang mendukung produksi gula berbasis tebu rakyat di Jawa Timur.

Pergub tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula dan Pengembangan Bioetanol, yang menegaskan peran penting Jatim dalam produksi gula nasional. “Kontribusi Jatim mencapai sekitar 50 persen dari total produksi gula nasional setiap tahunnya,” jelas Adhy.

Pada musim kemarau tahun 2024, produksi tebu di Jatim diperkirakan mencapai 1,127 juta ton, meningkat dari tahun sebelumnya. Meski begitu, produksi gula nasional diperkirakan stagnan atau bahkan menurun dibandingkan tahun 2023, yang tercatat sebesar 2,271 juta ton.

“Stok gula kristal putih di Jatim per 15 Oktober 2024 mencapai 669.224 ton, dengan rincian stok petani 59.821 ton, stok pedagang, pabrik 133.095 ton, dan PTPN 32.442 ton,” tambahnya.

Meskipun produksi gula di Jatim terus meningkat, Adhy mengakui masih ada tantangan, khususnya dalam meningkatkan rendemen tebu. Ia membandingkan dengan negara produsen gula lainnya, seperti Thailand dengan rendemen 11 persen dan Australia 13 persen. “Rendemen tinggi akan menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing,” tegas Adhy.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Arum Sabil, optimis Jatim dapat menjadi barometer industri gula nasional. Dengan luas lahan tebu mencapai 229 ribu hektar dan produksi rata-rata 1,2 juta ton per tahun, Jatim menyumbang sekitar 50 persen produksi gula nasional.

“Jatim memiliki potensi besar untuk memimpin industri gula nasional,” pungkas Arum.(dan)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Visual Radio

Add New Playlist